Agnihotra Ritual Veda Yang Terlupakan

Posted by


oleh : Pandita Acharya Brahma Murti





 

Om ajnana timirandhasyah jnananjana salakaya

caksur unmilitam yena tasmai sri gurave namah

hamba lahir dalam ketidak tahuan yang paling gelap, lalu guru spiritual membuka matahamba dengan pelila ilmu pengetahuan. Hamba sujud dan hormat kepadaMu Guru. (Guru Gita : 5)


Sebagai sebuah agama, bahkan lebih tepat jika disebut pandangan hidup (way of life). Hindu dibangun diatas fondasi Pustaka Suci Veda, dengan tiga kerangka penyangga, yaitu ; tattva (hakekat keyakinan), susila (etika), upacara (ritual). Secara tradisional ketiga kerangka dasar tersebut, sebagaimana disebutkan dalam lontar sundarigama, dinamakan igama (idep, tattwa), agama (ambek, susila), dan ugama (ulah, upacara). Seperti bangunan, Hindu akan menjadi kuat jika ketiga kerangka dasarnya itu benar-benar kokoh tertancap dalam di hati sanubari setiap umatnya.

Namun kenyataannya, praktek beragama umat Hindu (khususnya etnis Bali), hanya terfokus pada satu tiang, yaitu upacara. Seluruh tenaga, uang, waktu dan pemikiran umat dihabiskan untuk melaksanakan ritual keagamaan. Dalam pandangan masyarakat awam, agama memang dimaknai sebatas kegiatan ritual. Atas dasar itu, tidak keliru jika penelitian Clifford Geertz sampai pada kesimpulan, bahwa ; 'umat Hindu di Bali sangat sibuk melaksanakan upacara yang tidak pernah mereka ketahui maknanya'.

Umat Hindu di Bali melaksanakan kegiatan ritual keagamaan semata-mata berdasarkan tradisi. Tradisi sebagai sebuah produk masyarakat, sangat tergantung pada kondisi jamannya, sehingga harus ditinjau ulang dan diremajakan sesuai dengan konsep 'desa-kala-patra', serta didukung dengan kajian tattwa. Sebuah agama yang hanya dibangun diatas bingkai tradisi, tanpa pemahaman akan tattwa keagamaannya, ibarat candi yang dibangun diatas pasir.

Bangunan tersebut akan segera rubuh manakala datang banjir dan angin ribut, apalagi juga ada gempa bumi. Kenyataan itu sesungguhnya sudah terjadi dalam perkembangan Hindu di Nusantara, namun tidak banyak umat Hindu di negeri ini yang melakukan auto kritik terhadap kekeliruan praktek beragama di masa lalu. Hindu pernah menjadi mayoritas, namun kini terhimpit sebagai minoritas.

Ritual keagamaan Hindu di Bali, yang bernuansakan Siwaisme sangat lekat dengan keyakinan lokal 'Tantra Bhairawa'. Pengaruh Paksa Bhairawa menyebabkan bebantenan yang digunakan dalam ritual Hindu di Bali menggunakan; daging, ikan, minuman keras, rokok dsb. sebagai sarana upakara. Menurut petunjuk Lontar Yadnya Prakerti, semua sarana yang digunakan dalam upakara merupakan perlambang (yantra) yang semestinya digali maknanya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan binatang sebagai sarana ritual mengandung makna; kemauan dan kemampuan untuk mengalahkan nafsu-nafsu kebinatangan yang ada di dalam diri. Hanya orang-orang yang mampu mengalahkkan nafsu-nafsu ragawi(kebinatangannya)-lah yang dapat mendekatkan dirinya dengan sumber kesucian.










Kunda Agni di Pura Gunung Kawi


Karena sistem ritual yang dilakukan dibungkus dengan mistis, bahkan disempurnakan dengan mitos ancaman (sesuatu yang menakutkan akan terjadi), maka umat Hindu di Bali menerima tradisi ritual sebagaimana yang diwariskan, tanpa keberanian untuk mengkritisinya.

Kondisi tersebut menurut Sang Buddha; 'sama saja dengan telah memasrahkan diri sebagai korban masa lalu'. Hindu sesungguhnya tidak se-kaku apa yang dipraktekkan dalam tradisi. Ritual Hindu diajarkan untuk pembebasan umat bukan sebaliknya. Tidak mengikat umat dengan beban ritual, yang seringkah ; sangat mewah, meriah dan mahal. Sesungguhnya ritual Hindu tidak menekankan pada kuantitas upakara tetapi pada kualitasnya.

Sebagai agama besar tertua, Hindu memiliki sistem ritual yang bersumber pada Pustaka Suci Veda, yaitu Homa Yajna atau Agnihotra. Sesuai dengan asal katanya agni = api (Dewa Agni), dan hotra = penyucian. Upacara ini dimaknai sebagai; penyucian lewat perantara Dewa Agni. Jika Ista Dewata-rrya bukan Dewa Agni, sesuai dengan tujuan Sang Yajamana, maka upacara api suci ini dinamakan Homa. Istilah lainnya adalah Havana dan Huta.

Sarana utama upacara ini adalah api, yang dinyalakan di dalam kunda (menurut Yajurveda, kunda adalah simbol ardhacandra, yaitu kesadaran yang bersifat terbuka), kayu (menurut Gita, sebagai lambang pikiran yang masih diselimuti avidya, sedangkan api merupakan simbol dari veda yang akan memberikan penerangan batin).

Kedudukan Agnihotra jelas dipaparkan dalam Veda Sruti sampai dengan susastranya, termasuk dalam lontar-lontar yang ada di Bali. Misalnya; dalam Rgveda X:66.7 dan 8, disebutkan bahwa Agnihotra merupakan cara untuk melakukan sembah sujud kepada Tuhan, yang akan menganugerahkan kedamaian, kebahagiaan, kesehatan, kekuatan, menjauhkan para pemujaNya dari rasa marah dan benci, dan sebagainya. Hal senada juga disampaikan dalam Atharvaveda XXVIII: 6, 'dimana Agnihotra dilangsungkan, disanalah akan muncul pemimpin yang mampu bekerja dengan baik dan mengayomi masyarakatnya'. Akan tetapi, dalam Parasara Dharmasastra 1.32, diungkapkan, pada jaman Kali ini, upacara utama (yang oleh Sang Buddha disebut sebagai rajanya yajna), cenderung ditinggalkan (tidak dilakukan).

Demikianlah kondisi Kali Yuga, orang-orang melupakan upacara veda, walaupun dengan tegas dikatakan oleh Yudistira (pada waktu menjawab pertanyaan yaksha, dalam Wana Parwa), bahwa 'melaksanakan homa adalah kewajiban semua orang'. 

Agar masyarakat dapat menikmati kebahagiaan dan kedamaian, Sarasamuscaya 58, menyerukan supaya para pemimpin tekun mempelajari veda dan senantiasa melaksanakan Agnihotra (kuneng ulaha sang ksatriya, umajya Sang Hyang Veda, nitya agnihotra) selanjutnya dalam sloka 177 disebutkan; untuk mempelajari veda, laksanakanlah agnihotra (agnihotraphala veda). 

Lebih tegas lagi Canakya Nitisastra VIII: 10, menyebutkan; mempelajari veda tanpa agnihotra, sesungguhnya adalah kesia-siaan belaka (agnihotram binaveda). Berkaitan dengan fungsi agnihotra (pada buku yang sama XII:10, disebutkan), tanpa agnihotra, kondisi rumah tiada bedanya dengan kuburan. 

Dalam konteks BALI, yang sebagian besar mewarisi tradisi Saiva Siddhanta, agnihotra semestinya tidak asing. Kitab Siva Samhita 1:6, menyebutkan; 'orang-orang yang bijaksana akan memandang upacara agnihotra sebagai yang tertinggi'. Hal senada juga dipaparkan dalam Adiparwa, yang mengungkapkan agnihotra sebagai yang terpenting diantara upacara yajna. 

Lontar Agastya Parwa menyebutkan ada tiga cara untuk mencapai kelepasan, yaitu; tapa, yajha, dan kirti. Disebutkan lebih lanjut; 'yajha ngaranya agnihotradi kapujan Sang Hyang Sivagni.

Wrhaspati Tattwa: 25 menyebutkan; yajha ngaraning manghanaken homa. Selanjutnya, Lontar Silakrama menekankan bahwa fungsi agnihotra adalah sebagai penyucian diri (suddha ngaranya enjing-enjing madyus, asuddha sarira, masurya sevana, mamuja, majapa, mahoma). Lebih lanjut juga disebutkan, bahwa persyaratan seorang wiku yang layak dijadikan guru (nabe), salah satu diantaranya adalah senantiasa dan mahir melaksanakan upacara homawidhi.

oleh : Pandita Acharya Brahma Murti


Blog, Updated at: November 30, 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

Cari Blog Ini


vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta