Perjalanan Karma Sang Wiku - Mahasanti Puja 2019




ADITYA
Perjalanan Karma Sang Wiku

Disini…… di tanah ini, telah tersohor ke seantero negeri dengan nama Suranadi sekira 500 tahun silam pernah ditapak oleh seorang Muni nan Sakti dengan salah satu abhiseka beliau Danghyang Nirartha. Sebuah perjalanan suci tirthayatra sang Wiku untuk menancapkan pilar-pilar Tirtha Veda sebagai aliran estafet sang pewaris Veda untuk masa-masa berikutnya.
Perjalanan karma Sang Sadhu tak pernah lenyap ditelan jaman, karena perjalanan suci itu adalah merupakan wujud energy yang senantiasa ada nan abadi, yang wujudnya saja berbeda-beda menyesuaikan dirinya dengan perjalanan sang waktu. Itulah hukum kekekalan energy yang tradisi Veda menyebutnya seesha dan leluhur nusantara menyebutnya yajnya sesha, agar kita senantiasa ingat bahwa dalam alam semesta ini akan selalu ada yang namanya seesha atau sisa (bukan bekas), suatu sisa energy dalam wujud yang berbeda, yang akan menjadi cikal bakal wujud-wujud selanjutnya. Itulah sebabnya seesha itu adalah kekal adanya….anantaseesha, dimana diatasnya berbaring Sang Maha Kuasa yang penuh cinta kasih dan yajnya tanpa henti.

Lima abad kemudian, tepatnya padi hari Kamis 02 Juni 2016 di daerah ini di Pura Kayangan Jagat Suranadi pernah diadakan Upacara Ngelinggihang Weda bagi enam orang Pandita baru Veda Poshana Ashram, murid-murid dari Sang Swargi Ida Pedanda Nabe Gde Ketut Sebali Tianyar Arimbawa yang merupakan keturunan langsung dari Sang Sadhu Danghyang Dwijendra, merupakan perjalanan karma yang mengisyaratkan kembalinya Sang Danghyang di jaman milenial.
Jelas merupakan talian karma, karena itu merupakan kali pertama sebuah upacara suci Ngelinggihang Veda dilaksanakan di sebuah Pura penyungsungan Jagat, bagian dari untaian perjalanan karma tersebut yang tentunya hanya perubahan bentuk energy-lah yang bisa membuatnya nyata ada, seesha yang membuatnya kembali ada.

Tiga tahun kemudian perjalanan sang karma kembali lagi ke tanah Suranadi melalui perubahan energy  sang seesha dalam wujud Mahasanti Puja ke XI yang dilaksanakan mulai tanggal 12 Desember hingga 25 Desember 2019, yang dibawa oleh para punggawa Veda Poshana Ashram menuju sebuah Pura yang dipenuhi aura gaib para leluhur, Pura Wana Giri Prako.

Masih dalam lingkup kesucian Panca Tirtha Suranadi, yang ditancapkan oleh Tuan Guru Semeru nama lain beliau Sang Wiku, dengan penuh kerendahan hati kami persembahkan Mahasanthi Puja, dengan niat suci memohon kedamaian alam semesta beserta segala isi dan penghuninya.
Hanya dengan segala kerendahan hati sebuah bhakti akan menjadi indah, menjadi terang bercahaya, menjadi panduan dalam perjalanan di masa kegelapan Kali Yuga.

Dari OM segalanya berawal maka kepada OM segalanya akan kembali, dan diantara kedua masa awal dan akhir tersebut kita sisipi dengan kidung indah OM TAT SAT dari Bhagavadgita XVII.23.
om tat sad iti nirdeso brahmanas tri vidhah smrtah
brahmanas tena vedas ca yajnas ca vihitah pura
om tat sat adalah asal muasal penciptaan dan kembalinya semua yang ada, menunjukkan  kebenaran  mutlak  yang paling utama, yang melahirkan brahmana, veda dan yajnya, oleh karenanya omkara senantiasa mengawali dan mengakhiri semua kegiatan yajnya dan sebagai wujud bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Disini, di tanah Lombok Mirah Sasak Adi, dengan keagungan seesha yang abadi, sang karma kembali bertali untuk Sang Wiku,
Shrii Bhraja Ganaachakra

Download Buku Mahasanti Puja XI
halaman sebelumnya                                                               halaman berikutnya>

Blog, Updated at: Desember 10, 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta