Ajaran “Sang Hyang Pranawajnana” Antarkan Atma Manunggal dengan Paramatma

Posted by

Kompilasi Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 


SABDA  Brahman alias  Pranawa atau omkara itu, merupakan gabungan   dari Nada, Windu , Ardha candra dan Angka tiga atau ongkara yang adalah lambang angga, badan  Tri Murti. Gabungan keempat itu dalam Lontar Adhyatmika,  disebut  Ongkara atau Pranawa. Nada disebutkan sebagai pengendali idep (pikiran), Windu sebagai pengendali sabda (suara, perkataan), Ardha candra pengendali bayu (tenaga, gerakan) yang melahirkan Tri Kaya Parisuda dengan Dewanya Sang Hyang Paramashiva, Sang Hyang Sahashiva dan Sang Hyang Shiva. Dalam lontar Adhiatmika itu, juga disebutkan linggih ulu candra di dalam bhuana alit, posisinya di  bagian tubuh sekala sebagai berikut. Nada itu ada di rambut (sikha), Windu di kepala (sirah), Ardha candra di bahu, dan ongkara bagian di dada. Bila ditempatkan di dalam  tubuh,  unsur  yang tidak nampak dari luar  secara niskala, Nada itu, menempati empedu (ampru), Windu di jantung (papusuhan), Ardha candra di limpa, dan ongkara di paru paru. Keempat aksara  atau lambang ongkara itu berasal  dari matra asal dan tujuan hidup, juga merupakan tujuan dunia. Di dalam matra  sekala dan niskala itu, yang terletak di antara yang sarat   dan kesuniaan/ sunyata. Maksudnya antara dunia lahiriah dan kekosongan, atau antara ada dan tiada. Ring jaba sire, ring jero sire. Ia berada di luar dan juga ia berada di dalam. Jika seorang , manawa itu ingat akan Dharma, maka ia akan melakukan shadana  intensif, terus beriktiat mewujudkan ke hampaan , sunyata, sunia tanpa perlu numitis kembali karena telah mencapai moksah, kebahagiaan tertinggi. Apabila sebaliknya dilakukan, ia tidak ingat akan dharma, yang sejatinya   merupakan swadharma setiap menawa diberikan anugerah menjadi mahluk tertinggi, manusia ini.  Jika, tidak  ingat dengan dharmanya itu,  ia setelah  mati, numitis kembali ke mercapada mengikuti proses punarbhawa. Aksara suci ongkara atau ekaaksara dipercaya di dalam tubuh manusia melinggih / bersthana  atau terletak di ubun ubun (siwadhawa). ongkara itu bersamaan letaknya dengan cakra sahasrara (sahasra sama dengan seribu) yang merupakan puncak dari tujuh cakra kundalini . Di tempat sahasrara ini juga dipercaya berstana Sang Hyang Wenang, yang berfungsi mengendalikan semua cakra cakra yang ada di dalam tubuh manusia. Ongkara ini merupakan stana alias perlambang  Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada setiap permulaan mengucapkan mantra  harus selalu diawali pengucapkan ong. Omkara fungsinya sebagai mantra pengurip. Ong atau Om itu diyakini sebagai inti kekuatan doa yang mampu menggerakkan dan menggetarkan alam semesta (bhuana agung). beserta segala isinya, memohon kepada Sang Hyang Widhi agar semua aktivitasnya diberikan wara nugraha, anugerah dan mendapat berkenan-Nya. Uncaran  mantra itu adalah getaran yang merambat dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Getaran suci itu menjalar melalui udara ke seluruh tempat yang ada di sekitarnya. Makin kuat vibrasi uncaran mantra , akan makin kuat dan jauh  daerah jangkuan rambatan gelombang getaran itu. Gelombang itu juga akan meresap ke relung hati yang paling dalam dari umat manusia yang ada di sekitarnya. Di dalam ongkara itu menyatu tiga aksara suci Ang, Ung, Mang. Tiga aksara yang bergabung  menjadi satu itu  menjadi ekaksara yang merupakan kekuatan maha dasyat dan utama, dalam  utpati (srsti), kekuatan  mencipta dari Sang Hyang Brahma, sthiti (anugraha) kekuatan memelihara dari Sang Hyang Wisnu, dan pralina  (samhara, tirobhawa) kekuatan melenyapkan dari (proses degeneratif, penuaan), dari  Sang Hyang Ishwara atau Shiva. Aksara suci ongkara sering juga disebut Pranawa. Itu merupakan prana, kekuatan maha dasyat Umat Hindu dengan perahu  suci yang merupakan  Pranawa itu akan dapat menyebrangkan dari lautan samsara ini. Ongkara atau Om, sebagai simbul Hyang Widhi Wasa, diagungkan dan dipuja setiap saat oleh umat. Ongkara itu sesungguhnya selalu  berada di setiap jantung umat manusia. Bahkan di India diyakini juga di cakra muladara alias tulang ekor, dan tenggorokan, selain di hati/ hrdaya dan juga di sahasrara. Ongkara selalu mendekat  mengikuti irama kehidupan. Penelitian, Badan Rung Angkasa AS, Nasa, menyebutkan suara terpancar dari Matahari , tiada lain adalah suara Sabda Brahman omkara itu sendiri. Karena itu , diyakini dengan mengucapkan Om, semua masalah dapat diatasi. Swami Radhakrishna, mengatakan aksara suci Om atau ongkara yang menjadi lambang Brahman. Dapat diartikan pula sebagai dunia yang terwujud, dunia nyata masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain tentunya dunia mutlak tidak terwujud. Dalam Manawa Dharmasastra (II.74) , Hendaknyalah diharapkan selalu mengucapkan ong atau om pada awal dan akhir mempelajari Weda. Bila hal itu tidak dilakukan, maka pelajaran Weda itu akan menghilang atau lupa dibenak. Dalam Tutur Adhyatmika, aksara suci ongkara atau om itu, disebutkan mempunyai empat wujud, yakni : Dwipana, Brahmangga (Brahma angga), Shiwangga (siwa angga), dan Amertha Kundalini. Jika dilihat dari perkembangan wijaksara Ongkara itu, memiliki empat tahapan. Diawali yang paling kasar dan berakhir pada yang paling halus sekali. Tahapan awal itu adalah (stula sarira), kemudian suksma sarira, lalu menjadi para (tertinggi), dan tahapan terakhir Sunia (hampa), Ong atau Om, yang merupakan shiwangga , badang shiva yang tampak sekala, ialah kenyataan yang paling luhur, sampai kehampaan tertinggi atau para sunia (niskala), Keempat tahapan Ong atau Ongkara itu sebagai berikut: 

1, Sthula (kasar)  .. nirwrti, pratiatha, vidya dan shanti. 

2. Suksma (halus), indika, diptika, rocika, mocika. 

3.Para (tertinggi) halus, sangat halus, tak dapat mati. 

4.Sunia (kehampaan), penebus, serupa dengan langit, tanpa batas, bebas tak  tergantung. 

Keberadaan Ongkara di Bali ada  15 jenis berbeda yakni , 1. Ongkara geni, 2. Ongkara Sabda, 3. Ongkara Mertha, 4. Ongkara Ngadeg , 5. Ongkara Hreswa, 6. Ongkara Dirga, 7. Ongkara Pluta, 8. Ongkara Nem, 9. Ongkara Sari, 10, Ongkara  Aksara, 11. Ongkara Mondre, 12. Ongkara Sumungsang, 13. Ongkara Pasar, 14. Ongkara Adu Mukha, 15. Ongkara Japa. 

Bagi mereka yang tahu atau telah mempelajari akan datangnya kematian dapat memanfaatkan Aksara Omkara ini dalam proses latihan pernafasan. Karena itu, persiapkanlah  diri dengan baik agar dapat mencapai kelepasan alias moksah. Ikutilah ajaran Sang Hyang Pranawa Adnyana. Sewaktu bernafas tidak boleh sambil mendengkur.  Bunyi nafas harus diatur agar tidak terlalu keras. Disiplin itu terus  dipraktekkan dijadian abhyasa agar Atman nya dapat menyatu atau manunggal dengan Paramatma. Moksah diyakini akan dicapai dengan cara ini, sehingga tidak mencapai purnarbawa ke mercapada. Itu juga diyakini Prof Dr Ngurah Nala, MPH. Saat pranayama, bunyi omkara akan turun ke dalam hati, jadi posisi ongkara itu berada dalam keadaan terbalik , ongkara sumungsang. Dimana Nada merupakan ujung bawahnya, Ujung Nadha yang lancip itu berfungsi sebagai ujung tombak pembuka jalan agar dapat bertemu dengan gulu (dasar kerongkongan). Bunyi ongkara di atas dan bunyi Omkara di dalam hati, usahakan dapat merambat lewat niradnyana (saluran pengetahuan / manah ), itulah Paramayoga, yang merupakan yoga tertinggi. Paramayoga itu,  bertujuan untuk menghilangkah citta wyapara, perilaku atau pikiran yang aktif. 

Sapta Ongkara  

Sapta ongkara itu adalah tujuh buah omkara. Omkara itu disamakan dengan tujuh Dewa. Sapta Dewata itu masing masing adalah Dewa Brahma, Wisnu, Maheswara, Mahadewa, Rudra, Sadashiva dan Paramashiva. Kemudian hal itu diidentikkan dengan  Sapta wijaksara, tujuh aksara suci.  A Kara, U Kara, Ma Kara, Ong Kara, Ardhacandra, Windu dan Nadha. Linggih dan kedudukan aksara itu dalam bhuana alit beserta warnanya, adalah sebagai berikut. Ang di pusar warna merah, raktawarna. Ung di jantung warna hitam, krsnawarna, Mang di tenggorokan warna putih swetawarna, Ong di seluruh lobang badan , warna kuning pitawarna, Ardachandra di tengah alis warna keemasan matahari, suwarnawarna warna mata hati, Windu di tangan bawaksepa tanpa sifat, Nadha di kepala, nirayapara (tanpa kegiatan). Sapta Aksara dengan Sapta Atma, Sapta Dewata dan Sapta Pada  itu jika dihubungkan dan disatukan, merupakan sinergi efektif mengantarkan pada pembebasan. Saptapada,

 merupakan suatu tingkatan dalam meditasi menuju liberation, kaivalya, disamakan dengan Sapta Atma, yang merupakan Wijaksara dari Sang Hyang Sapta Dewata itu. Sedangkan yang disebut  Saptadwara, atau tujuh buah lobang keluar pada tubuh manusia, adalah dua buah lubang telinga, hidung, satu mulut, pengeluaran kencing, dan dubur. Di dalam Lontar  Bhuana Kosa, dikatakan, ada tiga wujud Omkara Pranawa itu ditambah satu buah simbol Sang Hyang Parashiva tanpa wujud, yakni: 

1.Ongkara Pranawa Hreswa dengan sebuah Windu, simbol Sang Hyang Brahma, Pradana. 

2.Ongkara Pranawa Dirgha, dengan dua buah Windu, simbol Sang Hyang Wisnu, Purusa. 

3.Ongakra Pranawa Pluta, dengan tiga buah Windu, simbol Sang Hyang Ishwara, Putera. 

4.Ongkara Pranawa dengan enam buah Windu, simbol Sang Hyang Paramashiva.

 

Ongkara Pranawa Hreswa dengan sebuah Windu, simbol Sang Hyang Brahma.Ongkara Pranawa Dirgha, dengan dua buah Windu, simbol Sang Hyang Wisnu, .Ongkara  Pranawa Pluta, dengan tiga buah Windu, simbol Sang Hyang Ishwara, adalah Sang Hyang Ishwara. kedudukan atau fungsi dari dewa dewa itu sering berubah ubah  sesuai kebutuhannya. Apabila Sang Hyang Wisnu sebagai pradana maka Sang Hyang Ishwara sebagai Purusha, dan Sang Hyang Brahma sebagai putera anak. tetapi sering juga terjadi pergantian dimana Sang Hyang Ishwara sebagai pradana dan Sang Hyang Brahma sebagai Purusha, maka Sang Hyang Wisnu sebagai putera. Sedangkan Ongkara Pranawa, dengan enam buah windu, dipergunakan sebagai simbol SangHyang Paramashiva, yang mengadakan Purusha, Predana dan Putera. 

Dalam Chandogya Upanisad, dibahas Om, dengan mengombinasikan nosi ujaran Om, dan lagu atau lapal Udgitha dengan Sabda Brahman, Dikatakan, esensi manawa itu adalah ujaran. esensi ujaran adalah himne atau reg. Esensi reg adalah nyanyian saman, dan esensi saman adalah Udgita (nyanyian keras,), Ungita, adalah suku kata Om yang menghubungkan  pasangan ujaran dengan nafas. Nafas itu erat sekali kaitannya dengan Sabda, Om sering dipecah menjadi tiga elemen, A, U, M. OM yang terdiri dari AUM merupakan bentuk dari Atman itu, Feminim.Maskulin dan Netral, adalah  Api, Angin dan Matahari, yang merupakan bentuk Sinar. Dewa Brahma, Wisnu dan Rudra merupakan bentuk pujaan. Om adalah wujud Brahman itu sendiri. 


Pranawa Dlm Pemujaan Shiva 

PRANAWA ,  dalam Weda disebut Sabda Brahman, suara Tuhan, dan  dikenal juga sebagai  Udgitha , Pranawa atau Omkara,  Ongkara itu sangatlah  penting dalam Pemujaan Shiva. Bukan saja dalam BG, Weda, Upanisad, bahkan Lontar Kadhiatmikan Bali, juga Omkara itu sangat dimuliakan. Seperti, Dalam Lontar Jnanashidanta, menguraikan secara mendalam  apa dan bagaimana Pranawa  mantra itu dalam bahasannya  tentang , Sanghyang Pranawamantra Kemoksan, Utpatti, Sthiti, Pralina Sang Hyang Pranawa dan Sapta Omkara. Demikian juga dalam Wratisasana dinyatakan , “Siwarcana Nga , Sang Wruh Ring Dipana Pranawa Tepet ri Kapujan Bhatara” jelaslah betapa pentingnya pengetahuan tentang Pranawa mantra tersebut dalam memuja Shiva. Dalam Jnanashidanta juga ditegaskan, Sang Hyang OMkara Sira Mantra Sang Shadaka Ri Sang Hyang Linggagrahya. Diyakini, Hyang Shiva  itu  berbadan Mantra. “Om Sanghyang Paramesti Rudra Sira Kastawaning Agati Dina Kasyasih, Raksyan Ngwang Manuhun Ri Jong Parama Karana Satata Panambahing Hulun. - Artinya, Om Sembah kehadapan Sang Hyang Pramesti Rudra, Beliau dipuja oleh mereka yang merasa hina. Hyang Shiva disembah secara total karena beliau menjadi penyebab segala yang ada. 

Hyang Shiva disebutkan sangat suci. Mpu Kanwa, dalam Arjuna Wiwaha, juga sangat memuliakan. Beliau mendeskripsikan dengan frase pendek, sebagai “amuter tutur pinahayu” . Jadi, sembah Sang Arjuna dalam kakawin itu dimaksudkan Mpu Kanwa , bahwa Arjuna senantiasa setiap saat ingat kepada Hyang Shiva. Itulah “Amuter Tutur Pinahayu”. Bahwa tetap disiplin dalam  yoga adalah terus menerus melakukan koneksi dengan Shiva . Hakekatnya itu merupakan  disiplin atau jalan yang disiapkan Shiva sendiri, untuk kembali kepada Sang Pencipta. Sejatinya, itulah yang  menjadi tujuan akhir hidup manusia, Atmanan Moksartham Jagadhita Ya Ca Ity Dharma. Jalan Yoga , menempatkan praktik Shiva sebagai aktivitas spiritual/ shadana yang merupakan bagian  sangat penting. Suatu aktivitas  yang dilakukan secara terus menerus dengan tiada hentinya. Nah kemudian, disiplin - tapa , brata , yoga, dyana , samadhi itu diyakini akan membangkitkan kesucian pikiran ( Sudha Jnana) dan sekaligus menghilangkan ke- bingungan (Bhranta Jnana). Om Tat Sat Asthu, Om Kham Brah, Ang Ah Hrih, Esa Paramashivastah. Demikian kompilasi/   catatan ringan Acharya Rishi Sadhu Giriramananda, berbagai dengan    Shadaka , Walaka yang memuliakan “Omkara atau Ongkara” 



Acharya Rishi Sadhu Giriramananda 


Blog, Updated at: November 11, 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta