Makna Simbolik Sarana Homa/Agnihotra

Posted by

 oleh : Pandita Acharya Brahma Murti




Sarana yang digunakan dalam upacara homa atau agnihotra mencakup alat dan bahan.

Alat-alat dan bahan dimaksud meliput:


1.  Kunda. 

Kundha adalah alat utama yang digunakan dalam upacara agnihotra, yaitu tempat nyala api berupa belanga atau lubang di tanah. Menurut Yajurveda, kunda adalah lambang kesadaran yang bersifat terbuka, sebagaimana Ardhacandra (bulan sabit) dalam Om Kara Pranawa.


2. Samidha 

Kedalam kunda dimasukkan samidha (kayu api), melambangkan pikiran yang masih diliputi oleh avidya atau papa. Kedua hal itulah yang diharapkan bisa dihanguskan oleh Dewa Agni,sehingga pikiran kembali menjadi suci.

Penegasan - kayu - sebagai lambang pikiran dapat dilihat pada Bhagavadgita IV.37, yang menyebutkan; 

“yathai 'dhamsi samiddho 'gnir bhasmasat kurute 'rjuna jnanagnih sarva karmani bhasmasat kurute tatha”. 

Artinya, bagaikan api menyala,oh Arjunamembakar kayu api menjadi abu, api ilmu pengetahuan demikian pula membakar segala karma menjadi abu. Sloka tersebut juga menegaskan bahwa api adalah lambang ilmu pengetahuan veda (jnanagnih).

Jenis-jenis kayu yang dipergunakan sebagai bahan bakar adalah kayu-kayu yang dianggap suci, seperti; kayu cendana, majagau, mangga, beringin, dan intaran. Namun yang paling umumdigunakan adalah kayu mangga, sebagai kayu suci Dewa Ganesha. Harus dipastikan, kayu bakar yang dipergunakan bebas dari serangga, seperti; semut ulat rayap dan lain-lainnya. 

Agnihotra sedapat mungkin bebas dari pembunuhan, apalagi penyiksaan makhluk lain. Pandangan tersebut sejalan dengan mantra yang dilantunkan yaitu; 

“agneyam yajhanam adhvaram, visvatah paribhurasi,sa id devesu gacchati” ( Rgveda, 1:4). 

Artinya; O Dewa Agni, pemujaan dan persembahan yang tanpa pembunuhan atau menyakiti makhluk lain (dhvar = himsa) dipersembahkan kepadaMu dari segala arah. Semoga semua persembahan ini sampai ke hadapan para dewa.

Dalam Agnisukta (Rgveda, 1:8) juga disebutkan; 

“rajantam adhvaram gopan rtasya didivim, vardhamanam svedame”. 

Artinya; Oh Tuhan, Engkaulah yang mengatur persembahan tanpa pembunuhan (adhvaram), pengendali hukum abadi (rta) yang senantiasa bercahaya berkilauan di rumah kami. Sejalan dengan mantra tersebut, jika dalam agnihotra juga dilengkapi banten,maka sangat disarankan untuk tidak memakai daging dan telur.


3. Samaghree. 

Samaghree (baca; samagri) berupa bubuk rempah-rempah dan biji-bijian yang telah ditumbuk halus,termasuk serbuk cendana dan majagau. Serbuk cendana melambangkan Hyang Parama Shiva (nirguna Brahman), dan majagau melambangkan Sang Hyang Sada Shiva (saguna Brahman). Selain itu juga dipersembahkan biji-bijian (sarwa bija) berupa kacang-kacangan, beras putih dan beras hitam sebagailambang bibit kehidupan. Biji-bijian melambangkan kepasrahan kepada Tuhan dan rasa persaudaraan dengan makhluk lain,sesuai ungkapan; "kacang ngamedalangpengrasa tunggal”.


4. Pahcdmrtam 

Persembahan berupa cairan (pancamrtam), termasuk minyak sebagai bahan bakar untukmenghidupkan api. Pancamrtam meliputi; yogurt (dhadih) di Timur, ghee/keju murni (grta) di Selatan, madu (madhu) di Barat, gula merah (sarkara) di Utara, dan susu (ksera) di Tengah kobaran api. Pancamrtam dipersembahkan kepada Panca Dewata yang menguasai empat penjuru mata angin dan tengah.


5. Persembahan-persembahan. 

Persembahan pokok berupa buah-buahan, dedaunan, dan bunga-bungaan. Menurut Bhagavadgita IX: 26, ada empat bahan yang layak dipersembahkan kepada Tuhan, yaitu daun (patram), bunga (puspam), phalam (buah), dan air (toyam). Daun-daunan yang dipersembahkan, meliputi; daun mangga, daun beringin, dan daun tulasi. Daun secara umum melambangkan tujuan yang suci, daun mangga memolak bahaya, daun beringin memuliakan dewa Shiva, dan daun tulasi melambangkan bhakti yang tulus. Bunga melambangkan kesucian hati kita dalam beryadnya (sekare pinaka ketulusan pikayune suci). Buah-buahan melambangkan hasil kerja (pahala atas karma yang dilakukan). Setiap bhkata hendakanya menjadikan karma yang dilakukannya sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan. Akhirnya, yang sangat utama adalah air mata dan pertobatan atas adharma dijadikan persembahan.


6. Kelapa. 

Kelapa yang dipersembahkan pada setiap sudut kunda merupakan buah suci untuk Dewa Ganesha. Buah kelapa melambangkan Tri Guna. Serabutnya melambangkan sifat tamasika, sehingga harus dikupas sebelum dipersembahkan. Tempurung kelapa melambangkan sifat rajasika dan ego, sehingga harus dipecahkan. Yajna harus bebas dari rasa memiliki (mamakara) dan rasa paling penting (ahamkara). Sifat-sifat itu harus dikendalikan, maka sifat satvika akan muncul, yang dilambangkan dengan air kelapa yang manis. Bersamaan dengan itu, serabut kelapa yang disisakan pada ujung kelapa tersebut harus dilepas, sehingga muncul mata ketiga-nya,yang melambangkan kesadaran batin (spiritual) mulai terbuka.

7. Kumba dan daksina. 

Kumba melambangkan Dewa Ganesha dan Daksina melambangkan Dewa Shiva (Shivagni). Kumba dibuat dari buah kelapa yang telah dikupas kulitnya dan dimasukkan kedalam guci atau sangku beralaskan 5 lembar daun mangga.

8. Persembahan lainnya. 
Ada juga persembahan berupa 10 kepal nasi putih yang diolesi ghee untuk bhuta yajna, dan persembahan gula merah untuk permohonan maaf (svistakridahuti) atas berbagai kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dalam pelaksanaan agnihotra, baik dalam pengucapan mantra, sikap, persembahan dan lain-lainnya.






Blog, Updated at: November 30, 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

Cari Blog Ini


vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta