Covid -19 , Netra Pariksa dan Aksara Ang Ah - Ah Ang

Posted by

Oleh:
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda



BALIAN lebih lebih Sulinggih / Pandita putus alias menak di Bali, tidak bisa eksis tanpa pengetahuan aksara suci yang sangat sakral. Karena itu pengetahuan aksara suci itu bukan saja wajib diketahui, tetapi mau tidak mau harus mahir menerapkan secara riil pengetahuan aksara suci itu, yang diaplikasikan baik dalam Surya Sevana maupun saat ngeloka palasraya /muput karya. Apa itu Caturdasksara ( Sa Ba Ta A I Na Ma Si Va Ya A U M Ong) sedangkan Panca Brahma ( Sang , Bang, Tang , Ang , Ing) juga Panca Tirta ( Nang Mang Sing Wang Yang) termasuk Panca Aksara ( Mang Ang, Ong, Ung , Yang) Jika proses kelahiran/ Utpati, kehidupan/ Stiti dan Kematian/ Pralina dikonversikan dengan Dasaksara yang terdiri dari gabungan ( Panca Brahma dan Panca Tirta)

Nah saat Utpati / Sresti aksara yang digunakan adalah : Ing Bang Sang Tang Ang - Yang Wang Sing Mang Nang. Sedangkan, Sthiti atau Anugraha, aksaranya : Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang , sedangkan Pralina/ Samhara/ Tirobawa aksaranya : Ang Tang Sang Bang Ing Sing Wang Mang Nang Yang.

Selain Dasaksara, juga dwiaksara juga diaplikasikan pada moment spesifik, Dwiaksara itu terdiri dari : Ang/ Purusha / Api - Ah / Predana / Air sedangkan kematian Ah Ang.

Penerapan Dwiaksara itu sering juga digunakan oleh Balian. Seorang balian yang belajar Sastra, sebelum mengobati pasti langkah awalnya adalah memeriksa pancaran sinar radiasi mata si sakit. Dalam diagnosa awal itu, Sang Balian akan memeriksa apakah ada “sinar kehidupan” yang dipancarkan dari mata si sakit. Jika ada sinar kehidupan yang memancar dalam skema formula aksara Ang - Ah. Ang Ah itu merupakan peringkesan dari Triaksara , ang ung mang. Dimana, ang sebagai Purusha dan Ung Mang lebur jadi Ah dalam wujud Pradana. Nah .. jika dari sinar mata si sakit memancar Ang Ah, berarti ada tanda tanda kesembuhan dari si sakit. Namun bila sebaliknya ,kedua mata yang diperiksa itu tidak ada tanda tanda Ang Ah melainkan Ah Ang , maka dipastikan orang itu akan meninggal, tidak dapat ditolong oleh siapapun. Lalu apa hubungannya dengan Covid -19 , Pandemi Covid - Corona Virus Desease 19 itu, menjadikan anak manusia di seluruh jagat ini lemah kemudian meninggal. Sejatinya lahir, hidup , mati , semua karena kehendak Nya. Namun covid - 19 yang mulai pecah di Wuhan , Tiongkok, membuat paranoid - ketakutan - negara dan masyarakat, sehingga muncul lock down, stay at home, social distancing, cuci tangan, disinfectan , hand sanitizer, pakai masker, menjadi kata kata yang sangat pasif dengan frekuensi yang tinggi digunakan oleh banyak pihak sebagai salah satu protap - prosedur tetap , regulasi meminimalisid atau mencegah mutasi corona virus itu.

Namun jika dihubungkan dengan yuga, adalah suatu masa menyongsong era baru , the golden age, zaman emas, satya yuga. Sudah pasti manusia manusia terberkati itu harus , lakukan tapasya - tapa , brata , yoga, dyana , samadi - demikian pesan nya, selama 9 bulan dalam hiranyagarba - telur kosmos/ alam semesta ini. Sama halnya manusia lahir perlu bertapa 9 bulan di Garba Ibu. Covid - 19, dengan berbagai keterbatasan yang bisa dilakukan menuntut manusia eling mohon anugerah Ibu Durga. Mengutip Garba Upanisad, si cabang bayi yang masih umur 8 bulan di garba / perut ibu, sebetulnya setelah “berjanji” kepada Ibu, bahwa jika kelak lahir, akan mencari jati diri, merealisasikan atma, berlindung kepada Shankara, dan saat itupun Ibu Si Bayi memberikan anugerah inisiasi. Jadi inisiasi pertama diberikan oleh Ibu Kita sendiri seiring janji kita.

Mestinya dalam situasi covid -19 ini , sembilan bulan dikeram di Hiranyagarba/ Telur Kosmis ini, kita melakukan hal hal konstruktif, gunakan waktu semaksimal mungkin untuk introspeksi , refleksi kalau enggan disebut “tapasya”. - tapa, brata, yoga, dyana dan samadhi. Bisa jadi seperti Ratnakara, sebelum jadi Rishi Agung Walmiki, penulis Ramayana, adalah pejahat besar. Karena bunyaknya energi dosa, keburukan bukan vibrasi kesucian, menyebut angsara Rama saja susah, hanya bisa mengatakan Ma Ra - Ma Ra yang artinya Bahaya, Bahaya bukan Ra Ma - Tuhan Penuh Anugerah. Setelah lama bertapa hingga tempatnya bertapa jadi “bukit semut” baru bisa mantap mengucap nama Rama dan kemudian memberikan anugerah kepada Ratnakara, sehingga menjadi Rishi Agung Walmiki, penulis wiracaritra Ramayana. Atau praktek orang orang tak baik, mencelakai seseorang, sering memutarbalikkan posisi aksara pada orang yang disasar. Menjadikan hal itu inspirasi, pembelajaran kenapa Covid- 19 Corona Virus Desease itu agar aksaranya itu diapresiasi, dipersepsi dan diafirmasi secara konstruktif serta positif. Dari perspektif, spiritual, untuk menjadikan orang itu keluar dari avidya/ kebodohan, kelemahan/ ketidakberdayaan , solusinya adalah dengan menggunakan “jnana agni” api suci pengetahuan rohani. Jnana agni itu diyakini dapat membakar sarwa papa, klesa, roga, winasaya. Lalu bagaimana caranya, Maka rubahlah juga letter , Covid - 19 itu menjadi kepanjangan kata kata suci , luhur, terberkati dan penuh anugerah. Hurup C - consciusnes atau “kesadaran” . Nah .. manakala ada kesadaran akan Hyang Widhi maka secara gradual , evolusi pasti lebih baik. Sedangkan hurup O, bisa saja Omkara, sebagai Sabda Brahma , Suara Tuhan. Atau O itu bisa Omnipotent - Mahakuasa Omnipresent - Hadir Dimana-mana Omniscient - Mahatahu

Lalu bagaimana halnya dengan V , bisa diartikan V - Victory - Kemenangan
Void -Kekosongan , Keampaan atau Pengetahuan Abadi Veda. Sedangkan I - Ishvara atau I - Ishana / Shiva.

D - Deva bisa juga Durga. Dengan kesadaran tuhan itu Mahakuasa, Hadir dimana mana, Mahatahu, melalui kekosongan, kehampaan meditasi kepada Ishwara atau Ishana dan juga Durga , Ardenareswari maka akan mencapai angka 1 adalah Tuhan, Ekasara, Omkara , sedangkan angka 9 mencapai level deret angka tertinggi sempurna. Bukanlah jika, aksara menyeramkan Covid- 19 itu dilebur dengan “Jnana Agni” isoterik advaita menjadikan kita mencapai kesempurnaan manunggal dengan Shiva Durga, dalam kekosongan omkara menerima kesadaran dari Hyang Mahakuasa, Ada Dimana-mana dan Mahatahu. Demikian perenungan Acharya Rishi Sadhu Giriramananda, atas situasi tak kondusif Covid- 19. Rubahlah aksara covid-19 itu menjadi konstruktif suci, luhur, penuh anugerah dan sempurna seperti formula di atas. Om Tat Sat Om Kham Brah Esa Paramashivastah. Klungkung Semarapura, kirang langkung nunas ampure. Jika dianggap konstruktif digunakan, jadikan inspirasi dan motivasi. Jika tidak, abaikan, delete dari memori. 


















Acharya Rishi Sadhu Giriramananda


Blog, Updated at: Mei 13, 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta