AHIMSA MANIFESTASI KASIH DALAM PENGERTIAN

Posted by


Oleh: Agni Premadas[1]

Tanpa kekerasan berarti menghilangkan penyebab kekerasan terhadap siapapun, baik dengan pemikiran, kata-kata atau perbuatan. Dalam hidup, setiap individu harus mewujudkan cita-cita suci. Gagasan ini harus meresapi seluruh hidup dan tindakan. Segala tindakan berdasarkan pikiran manusia yang menemukan pengejawantahannya dalam bentuk luar sebagai pantulan dari wujud batinnya. (Svami Sathya Narayana)

Ahimsa sejatinya mengajarkan, bahwa penyelesaian dengan kekerasan justru akan mengundang kekerasan baru. Menurut Mahatma Gandhi, kekerasan bukannya membebaskan manusia dari beban mentalnya tetapi justru membelenggu dia dan mengungkapkannya dalam kesempitan cinta. Sebaliknya, dengan ahimsa manusia  dapat mengembangkan rasa dan kemampuan insani sehingga dapat menemukan diri sendiri sebagai sebuah ciptaannya, hasil kebudayaannya yang merupakan wujud konkrit dari pernyataan dirinya. Dalam ahimsa itu pula termuat sikap etika yang sangat positif terhadap alam. Manusia tidak lagi akan mengeksploatasi alam demi keperluan sendiri, melainkan ia akan menjadi ekosistem sehingga dunia yang dia tempati benar-benar merupakan “rumah” baginya. 
Tanpa kekerasan atau ahimsa dipuji sebagai ‘paramo dharmah’ yaitu dharma tertinggi dari umat  manusia. Di dalamnya ia juga membawa intisari dari keempat nilai spiritual dasar lainnya dan menyatakan kemenangan jiwa terhadap kekuatan yang berlawanan dalam dunia fisik. Pada bidang praktis, parama dharma ini menjadi parama yoga atau latihan spiritual tertinggi, yang membawa pada penyatuan pribadi dengan Tuhan, yang bermanifestasi dalam semua makhluk. Dalam Bhagavad Gita (VI.32) dinyatakan  “atmaupamyena sarvatra samam pasyati yo ‘Arjuna, sukham va yadi dukham sa yogi paramo matah” artinya yogi yang sempurna adalah ia yang mengidentifikasikan dirinya dengan semuanya dan mengidentifikasikan kesenangan dan penderitaannya sendiri dengan kesenangan dan penderitaan semua makhluk.
Untuk dapat melakukan semua itu, Svami Sathya Narayana mensyaratkan setiap orang menjalankan 3 P. Purity (kemurnian), Patience (kesabaran), dan Perseverance (ketekunan). Sifat paling penting adalah “kemurnian”. Dalam Bhagavad Gita Sri Krishna juga mengharuskan untuk menghapus pikiran buruk dengan selalu menumbuhkan pikiran damai. Jangan menyebarluaskan segala macam gosip pasaran. Begitu pula tidak menarik kesimpulan sesuatu secara terburu-buru tanpa berdasarkan informasi lengkap. 
Untuk mengatasi pengaruh buruk tubuh (thanu), pikiran (mana), dan harta (dhana), perlu dikembangkan satsangga, seperti yang terdapat dalam kitab suci. Satsangga, tidak diartikan sebagai ‘berada dalam lingkungan orang-orang baik’, seperti pemahaman masyarakat umum. Tapi, sat artinya Kebenaran yaitu atma atau Tuhan. Jadi, satsangga, berarti dalam lingkungan Tuhan dan bukan orang-orang.  Jika orang mulai membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain, pergilah dari tempat itu tanpa mendengar pembicaraan sedemikian itu. Dalam Ramayana, Kaikeyi dipengaruhi kata-kata pelayannya Manthara yang menghasut untuk menghentikan penobatan Rama dan mengatur agar Rama dikucilkan, sebab ia tidak menyukai Rama. Karena Kaikeyi mendengarkan nasehat jahat Manthara, ia mengusahakan agar Rama pergi ke hutan. Kedua wanita ini memeperoleh nama buruk sepanjang masa. Di antara pria, kalin memiliki contoh dalam Mahabharata, Duryudana selalu memiliki pikiran pikiran jahat yang berlanjut dengan rencana jahat. Demikian pula Kichaka memandang Drupadi dengan mata jahat dan ia dibunuh oleh Bima. Rahwana melakukan tindakan jahat. Manthara berdosa karena berbicara buruk tentang Rama, Kaikeyi mendengarkan kata-kata jahat itu. Kichaka berdosa karena melemparkan pandangan jahat pada Drupadi. Duryudana memupuk perasaan jahat dan melakukan perbuatan jahat. Inilah contoh-contoh untuk membuktikan bagaimana berbicara jahat, mendengar kata-kata jahat, berpikir jahat dan melakukan perbuatan jahat dapat menyebabkan keruntuhan seseorang. Sadana rohani terdiri dalam berbicara, berpikir, melihat, mendengar dan berbuat baik.
Banyak bicara juga harus dihindari karena membuang tenaga. Jika orang menjadi lemah karena tenaga terbuang, ia cenderung menjadi pemarah dan tumbuhlah kebencian. Karenanya setiap orang mesti menggunakan tenaga pemberian Tuhan untuk tujuan-tujuan yang baik. Tenaga adalah pemberian Tuhan. Dengan mengurangi pembicaraan yang tak perlu, kita dapat menyimpan tenaga. “Sedikit bicara, banyak bekerja”, adalah nilai kearifan yang harus dipraktekkan. 
Memfitnah, membunuh karakter, menonjolkan kekeliruan orang lain, mencoba mengecilkan atau menjatuhkan harga diri orang seseorang di mata yang lain, inilah kanker pembunuh yang telah menghancurkan banyak kelompok. Sudah pasti hal demikian harus dianggap sebagai tindakan tercela bagi setiap badan rohani. Jika semua umat dapat memperluas lingkaran hubungan mereka dimana mereka dapat memberikan dan diterima dengan kasih, maka sudah pasti akan ada kemajuan. Kasih dalam hati lambat laun harus terus diperluas. Jangan menganalisis dan mencela. Tunjukkan simpati dan sebarkan kasih. Kasih adalah nafas kehidupan. Kasih adalah makanan yang menopang hidup. Jadikanlah  lautan cinta kasih maka tujuan akhir akan tercapai. Dengan demikian jelas tidak ada nilai tertentu yang dapat dipersekutukan dengan ahimsa. Ia adalah nilai-nilai spiritual, moral dan sosial yang semuanya saling merangkum dan menunjang. Bahujana hitaya, bahujana sukhaya, lokanura-naya, - kesejahteraan orang banyak, kebahagiaan orang banyak, kenikmatan orang banyak.
Dalam era sekarang,  dimana tidak ada sama sekali batas besarnya pengorbanan yang dapat dilakukan seseorang untuk sampai pada “penyatuan dengan hidup”, era yang menuntut sikap “perbanyaklah keperluan-keperluan”, paham ahimsa sebagai wujud kasih dalam pengertian diperlukan untuk menggapai jenjang kemanusiaan yang lebih tinggi. Dalam tanpa kekerasan (ahimsa), kebenaran, kebajikan, kedamaian dan cinta kasih bertemu untuk memenuhi cita-cita agung jaman dahulu yakni udara caritanam tu vasudaiva kutumbakam---mereka yang hatinya penuh dengan cinta kasih yang tak terbatas merangkum seluruh dunia sebagai satu keluarga.


________________________________________
[1] Ketua Litbang Veda Poshana Ashram, Ketua Yayasan Dvipantara Samskrtam  dan Dosen   Universitas Warmadewa Denpasar


Blog, Updated at: Januari 21, 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta