FIGUR DAN GERAKAN AHIMSA GANDHI - 1

Posted by

 (Bagian Pertama dari 3 Tulisan)


Oleh: Agni Premadas[1]


Ahimsa atau pantang kekerasan adalah kekuatan paling ampuh yang tersedia bagi umat manusia. Paham ini jauh lebih ampuh dibanding dengan senjata penghancur terhebat yang pernah diciptakan oleh akal manusia (Mahatma Gandhi).

   Tokoh perjuangan rakyat India, Mahatma Gandhi, telah melakukan berbagai eksprimen tentang kebenaran dalam hidupnya untuk mengangkat moral rakyat, serta mendorongnya ke arah transformasi budaya menuju kemanusiaan yang lebih tinggi. Figur dan beberapa pemikiran besar Gandhi, baik di bidang humanisme, politik, ekonomi dan bidang-bidang lainnya ibarat sebuah telaga inspirasi yang dapat menghilangkan dahaga di tengah kegersangan rasa kemanusiaan masyarakat dunia.

o Figur Seorang Mahatma

Mohandas Karamchand Gandhi dilahirkan pada tanggal 2 Oktober 1869 di Porbandhar, yang dikenal juga dengan Sudamapuri, daerah Kathiawad, India Barat. Ayahnya bernama Karamchand Gandhi, seorang menteri pada sebuah kerajaan kecil, sedangkan ibunya bernama Putlibai. Kedua orang tuanya berasal dari golongan pedagang (vaishya) dan merupakan penganut Vaisnawa yang taat.
Ketika Gandhi berusia tigabelas tahun, dia dikawinkan dengan Kasturba, seorang gadis yang berusia sama. Orang tua mereka mengatur perkawinan itu sesuai dengan adat kebiasaan. Keluarga Gandhi memiliki empat anak dari sebuah perkawinan yang berbahagia.
Pada usia sembilan belas tahun ia pergi ke Inggris untuk belajar Ilmu Hukum dalam waktu yang relatif cepat, dan tiga tahun kemudian yaitu tahun 1891, ia kembali ke India dan mencoba menjadi pengacara di Bombay dan Rajkot, tetapi tidak banyak berhasil. Ia masih terlalu pemalu sebagai pengacara yang pantas. Tetapi dengan berjalannya waktu ia mengembangkan teknik yang sangat bagus untuk mendamaikan berbagai kepentingan yang saling bertentangan dari para pihak yang saling menuntut dan menyelesaikan perkara di luar pengadilan. Teknik ini kemudian lebih dikenal dengan ahimsa (pantang kekerasan) yang semula banyak diujicobakan oleh Gandhi dalam praktek hukum.
Gandhi pergi ke Afrika Selatan pada tahun 1893 sebagai pengacara. Di sanalah berbagai percobaan dengan hidupnya banyak membuahkan hasil. Berbagai buku dipelajarinya, mulai dari Bhagavad Gita, Unto This Last karangan Ruskin, dan The Kingdom of God is Whitin You karangan Tolstoy. Dia melakukan eksprimen hidup bersama dalam pertanian di ‘Phoenix Farm’ dan ‘Tolstoy Farm’. Di atas semua itu, ia melibatkan diri sepenuhnya untuk berjuang melawan ketidakadilan.
Sejak April 1893 ia mencoba berjuang melawan prasangka rasial, terlebih karena hal itu dialami oleh bangsanya sendiri. Perjuangannya ini bukan berbentuk revolusi fisik melainkan suatu perjuangan yang menggunakan kekuatan jiwa, yang nanti lebih dikenal dengan sebutan Satyagraha. Untuk  usahanya menegakkan hak-hak azasi ini, ia mulai dengan mendirikan ashram di Sabarmati.
Pada tahun 1922, ia memimpin kampanye massa melawan pembayaran pajak, sebagai akibat dari kegiatannya itu ia dijebloskan ke dalam penjara, tetapi dibebaskan kembali karena alasan kesehatan. Selanjutnya pada tahun 1931, ia kembali memimpin gerakan yang disebut Perjalanan Garam, yakni perjalanan ke laut untuk menyuling garam dengan tidak mengindahkan monopoli pemerintah Inggris atas pengolahan garam.
Demikianlah, tahap demi tahap Gandhi memimpin India menuju kemerdekaannya yang sempat ia saksikan pada tahun 1947, sebelum akhirnya dalam pertemuan doa pada tanggal 30 Ajanuari 1948, ia ditembak oleh seorang Hindu fanatik. Dengan mengucapkan “He Ram”, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir setengah jam kemudian.


o Gerakan Politik Ahimsa

Paham pantang kekerasan (ahimsa) menurut Gandhi adalah kekuatan paling ampuh yang tersedia bagi umat manusia. Syarat pertama bagi paham ini adalah keadilan yang menyeluruh di setiap bidang kehidupan. Ahimsa dengan demikian, tidak hanya berarti ‘tidak membunuh’, tetapi lebih jauh ahimsa berarti menolak keinginan membunuh dan tidak membahayakan jiwa, tidak menyakiti hati, tidak membenci, tidak membuat marah, tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan memperalat serta mengorbankan orang lain.
 Secara jelas pemahaman tentang ahimsa ini ditulis oleh Gandhi dalam Harijan tahun 1936, yang antara lain menjelaskan bahwa: Ahimsa adalah suatu hukum bangsa manusia yang jauh lebih tinggi daripada kekuatan brutal yang harus didasari oleh keimanan yang hidup kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Ahimsa memberikan perlindungan sepenuhnya kepada harga diri dan rasa hormat, tetapi tidak selalu kepada kepemilikan tanah atau milik yang dapat bergerak, meskipun pelaksanaannya yang biasa menunjukkan pertahanan yang lebih baik daripada tentara untuk mempertahankan harta tersebut. Menurut kodratnya, ahimsa tidak membantu tindakan-tindakan amoral. Individu atau negara yang akan melaksanakan ahimsa harus mempersiapkan diri untuk megorbankan seluruh miliknya, kecuali kehormatannya. Karenanya, ahimsa tidak menyetujui penjajahan, misalnya imperialisme yang terang-terangan mendasarkan diri pada kekuatan pertahanannya. Ahimsa adalah daya yang dapat dipraktekkan secara sama oleh semua anak-anak, pemuda, wanita dan orang dewasa, asal saja mereka mempunyai iman  terhadap Tuhan yang Maha Pengasih dan mempunyai cinta yang seimbang kepada umat manusia. Jika ahimsa diterima sebagai hukum kehidupan, maka ahimsa harus meresapi seluruh kemanusiaannya dan tidak diterapkan pada tindakan tertutup. Adalah suatu kesalahan besar mengharapkan bahwa hukum yang cukup baik untuk individu, tidak berlaku bagi seluruh umat manusia.
Secara politik, ia percaya pada desentralisasi kekuasaan. Dasar kekuatan politik menurutnya haruslah kelompok-kelompok masyarakat kecil mengikuti model panchayat, dari desa India tradisional. Negara harus memiliki kekuasaan minimal, konsisten dengan tujuan sarvodaya (realisasi diri universal atau bagi setiap orang). Ahimsa harus mengatur semua hubungan-hubungan politik dan bukan dengan paksaan atau kekerasan.
Dalam arti luas dapat dikatakan, ahimsa adalah keinginan lebih dari suatu kehendak untuk memperlakukan semua makhluk hidup sebagai dirinya sendiri. Kalau demikian, ahimsa merupakan langkah minimal yang dituntut dari manusia sebagai makhluk bermoral. Ahimsa tidak hanya penting karena ia adalah keutamaan yang layak diperjuangkan, juga bukan hanya karena ia marupakan sarana pemurnian diri, melainkan ahimsa menjadi sangat penting dalam hidup manusia, karena merupakan cara satu-satunya dan cara yang paling fundamental, dimana manusia dapat dan harus mengekspresikan penghargaan atas nilai terdalam dari setiap makhluk hidup.
Gandhi adalah penjelmaan dari ahimsa, kesederhanaan atas pilihan sendiri, dan toleransi. Hal ini merupakan manifestasi dari kebenaran yang tertinggi yang menjadi tujuan hidup setiap manusia. Cita-cita ini berpijak atas dasar penghindaran terhadap segala bentuk kekerasan serta penghormatan terhadap semua kehidupan yang menjadi ciri khas tradisi Negeri Bharata-India, dan bukannya pelecehan maupun pengingkaran terhadap harkat dan martabat manusia seperti yang banyak terjadi di belahan dunia sekarang ini. (Bersambung).


[1] Ketua Litbang Veda Poshana Ashram, Ketua Yayasan Dvipantara Samskrtam  dan Dosen   Universitas Warmadewa Denpasar


Blog, Updated at: Januari 01, 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Mutiara Sai

Postingan Populer