Dasar Homa Dhyatmika

Posted by

GANAPATI – OMKARA – GAYATRI SIRAH
Sebagai Dasar Homa dan Surya Sewana
 Shri Anantadamar Ganachakra

Pentingnya Pemujaan Ganapati dan Surya
Surya Sadhana adalah praktek pemujaan tradisi Weda pada masa masa awal penciptaan alam semesta, yang juga menyimpan pengetahuan tak terbatas mengenai asal usul alam semesta.
Seiring dengan perkembangan dan semakin banyaknya ilmu pengetahuan Veda yang diturunkan kepada para Maharsi kita, maka ajaran inipun terbagi bagi dan masuk ke berbagai sekte, sehingga ajaran dan mantra-mantranya juga turut terbagi bagi.

Inilah tugas penulis saat ini sebagai siswa Yogarsi untuk mengumpulkan mutiara-mutiara terserak mengenai Ganesha dan Surya yang terangkum didalam Surya Mahajnana Sidhanta (Pedoman Dasar Brahma Prajapati didalam buku karya penulis). Tujuannya adalah untuk melengkapi pengetahuan maupun mantra para Bhakta secara universal. Sebagai contoh, tradisi Mantra dan Surya Sewana di Nusantara, baik Siva Sidantha, Budha maupun Waisnawa, dasar hukum dan mantranya yang memuja Surya dan Ganapati sangat terbatas dan banyak tidak terbaca secara lengkap.

Mengapa pemujaan Ganapati/Ganesha dan Surya (Surya Narayana atau Brahma Prajapati) adalah sangat penting dan utama ? Berikut adalah sedikit dari banyak sumber yang bisa penulis rangkum:
1.    Ganapati Upanishad Sloka 13
ETADATHARVASIRSA YO’DHITE,
SA BRAHMABHUYAYAM KALPATE,
SA SARVATAH SUKHAMEDHATE,
SA SARVAVIGHNAINA BADHYATE,
SA PANCAMAHAPAPAT PRAMUCYATE.
Siapapun yang bermeditasi pada Atharva-sirsa dapat menyatu dengan brahman. Ia akan mendapatkan kebahagiaan di mana-mana. Ia tidak akan mendapatkan berbagai macam rintangan. Ia terbebas dari lima dosa besar.

2.    Brahma Vaivartha Purana, Ganapati Khanda 6.100
GANESHA PUJANAE VIGHNAM
NIRMALAM JAGATAM BHAVET
NIRVYADHIHI SURYA PUJAYAM
SUCHIHI SRI WISHNUM PUJANAE
Dewa Ganesha melenyapkan segala halangan
Menjaga ketentraman alam semesta
Keberhasilan dan kesempurnaan didapatkan dengan memuja Surya
Kesucian didapatkan dengan memuja Wishnu

3.    Narada Upanishad 3.65
4 fungsi/rahmat Ganesha
MAHAVIGHNAAN PRAMUCYATE
Melenyapkan segala rintangan
MAHAPAPAAN PRAMUCYATE
Segala kesalahan dimaafkan/diperbaiki
SARVA DOSHAAN PRAMUCYATE
Menghapus segala dosa
SA SARVAVID BHAVATI
Menganugerahkan segala kebenaran

4.    Sabdakalpadruma Kosa
AADITYAM GANANAATHAMCA DEVIM RUDRAM CA KESAWAM
PANCA DAIVATAM ITYUKTA SARVA KARMASU PUJAYET
Surya, Ganesha, ShaktiSiva dan Vishnu adalah lima aspek kebenaran atau Brahman yang harus dipuja dalam setiap puja/upacara suci

5.    Sri Ganesa Puranam
Seluruh isi dari Kitab ini mengagungkan Ganesha, terutama Bab X dimana suatu ketika Rsi Vyaasa kehilangan kekuatan dan ingatan untuk menyusun kitab suci lalu menghadap kepada Dewa Brahma untuk bertanya, dan Dewa Brahma memberikan penjelasan bahwa semua masalah datang karena melupakan Ganesa
AARAMBHE SARVA KAARYANAAM
PRAVESE VAAPI NIRGAME
SRAUTE SMAARTHE LAUKOKE
YO ASMRTO VIGHNAM KAROTI CA
tentu akan ada penghalang atas setiap hal yang kita lakukan terkecuali kita mengingat dan berdoa kepada Ganesha, dalam semua usaha, perjalanan, membangun, mempelajari Veda semua akan lanca r dengan mengingat Ganesa.

6.    Bhavishya Purana 22.31
AADITYASYA SADAA PUUJAM
TILAKAM SVAAMINAS TATHAA
VINAAYAKA PATESCAIVA
SARVASIDDHIM AVAAPNUYAAT
Guna memenuhi segala keinginan bhakta, seseorang harus bersungguh sungguh memuja Vinayaka (Ganesha) dan Aditya (Surya) dengan teratur sesuai petunjuk kitab suci

7.    Bhavishya Purana 159.4
SARVA YAJNA TAPODAANA
TIIRTHA DEVESU YATPHALAM
TATPHALAM KOTIGUNITAM
STHAAPYA BHAANUM LABHENNARAH
Semua manfaat dari upacara, tapa, berdana / bersedekah, tirthayatra (mengunjungi tempat suci), memuja Dewa Dewi jutaan kali, semuanya terlampaui dengan memuja Surya (Bhanu adalah salah satu wujud/nama dari Dewa Surya).

8.    Atharva Veda Mandala 2  
Adhyatma Sukta 1.58
YO ADYA DEVA SUURYA TVAAM CA MAAM CAANTARAAYATI,
DUSVAPNYAM TASMICHAMALAM DURITAANI CA MRJMAHE
Siapapun juga yang hari ini, wahai Surya, berada diantara engkau dan aku (berbhakti mengingatMu), semua mimpi buruk, pencemaran/dosa, dan kesulitan dalam dirinya terhapuskan

9.    Rg Veda I.115.14
SURYA ATMA JAGATAS TASTHUSAS CA
Surya adalah roh alam semesta baik yang bergerak maupun tak bergerak

10. Agni Purana, Mudgala Purana, Weda Parikrama, Padma Purana, Siwa Purana, Surya Upanishad, dan masih banyak sumber lainya yang menjelaskan tentang pentingnya pemujaan kepada Ganapati dan Surya Narayana.

Pemujaan kepada Ganesha/Ganapati adalah mewujudkan beliau sebagai Mahaguru semua umat manusia, karena beliau adalah pemegang terakhir dari kitab ilmu pengetahuan alam semesta serta catatan semua kejadian / peristiwa dalam alam semesta yang disebut LINGGAPRANALA. Kitab Linggapranala ini diturunkan oleh Sanghyang Anantawisesa / Mahawishnu yang berbaring di badan naga Anantasesha. Sanghyang Anantawisesha menurunkan kitab ini kepada Sanghyang Taya / Bhatara Guru yang kemudian menurunkanya kepada Dewi Saraswati.  Dalam proses pembelajaran Dewa Ganesha di puncak Kailash, Dewi Saraswati menurunkan kitab ini kepada Dewa Ganesha. Saat itu Dewa Ganesha diabhiseka dengan nama Shri Vinayaka, yang berarti maha mengetahui segalanya.
Sebagai Mahaguru, beliau patut dipuja terlebih dahulu dalam memulai segala kegiatan, terlebih lebih dalam hal mempelajari Veda atau mantra-mantra.

Pemujaan kepada Surya adalah sebagai manifestasi Sang Pencipta yang terlihat secara nyata. Segala isi alam semesta bermula dari Surya Mahanarayana yakni Jyotir lingam, matahari raksasa yang sangat terang berwujud lingga. Dari sinilah semuanya berawal, leluhur alam semesta termasuk kita umat manusia, yang kita sebut sebagai Kawitan Tunggal atau Surya Mahanarayana.
Atharva Veda Samhita Mandala II Adhyatma Sukta 4-5-6 semuanya menjelaskan tentang ke-esaan atau tunggalnya Hyang Widhi.
Dibagian awal Rg Veda, Brahman disebut sebagai Agni, berturut-turut kemudian dalam Yajur Veda, Sama Veda dan Atharwa Veda, beliau disebut sebagai indra, soma, vayu, yama, varuna, saraswati, Vishnu, brahma, rudra/siwa, marut, marici, matarisvan, dan sebagainya. Disebutkan dalam Atharva Brahmacari Sukta sloka-2, bahwa 6.333 dewa hadir dalam upacara Diksa Brahmacari. Semua kemuliaan dan pemujaan dewa-dewa disebutkan satu persatu dalam catur veda, namun pada akhirnya didalam Atharva Veda Adhyatma Sukta 4-5-6, semua dewa menunggal dengan Surya sang kawitan alam semesta sebagai Hyang Maha Tunggal.

Aum Sri Ganesha, putra Dewa Siwa dan Parwati atau Bapa Akasa dan Ibu Pertiwi atau Lingga dan Yoni, yang digambarkan sebagai Pemimpin Utama (Vinayaka) atau sebagai Dewa Penghalau segala rintangan / Pengelukat (Vighnesvara). Karena Beliau sebagai penguasa segala rintangan, maka segala upacara atau pemujaan termasuk juga pemujaan Surya / Surya Sewana / Surya Upasana harus didahului dengan memuja / memanggilNya terlebih dahulu.
Vinayaka adalah Realitas Utama yang maha pemurah, abadi dan penganugrah kegembiraan serta kemuliaan kepada mereka yang memuja-Nya. Beliau dimuliakan sebagai “Samasta Loka Samkara” yang memberi kesejahteraan bagi segenap alam semesta, yang senantiasa cemerlang. Ganesha lahir sebagai replika dari penguasa hati Ibu dan Bapak alam semesta. Ia sesungguhnya melambangkan Tuhan yang paling menguntungkan, sekaligus merupakan simbol dari puncak pengalaman spiritual dan sebuah altar kesempurnaan, sebagai penjaga dan pembuka serta penutup pintu kesadaran spiritual.
Menurut Kundalini yoga, Ganesha menempati cakra adhara berarti “dasar, pondasi”. Cakra muladara adalah hal yang penting yang merupakan dasar/sumber kekuatan ilahi yang terpendam.
Sri Ganesha adalah “Aum Antaryamin” Tuhan Penguasa Batin yang menuntun kehidupan Sang Diri dalam sebuah perjalanan suci dari kelahiran menuju kematian untuk mencapai tempat terakhir “Moksa” penyatuan sang “AKU”. Ganesha disimbulkan sebagai Omkara atau pranawa adalah simbol universal Tuhan / Brahman.
Ganapati digambarkan sebagai manusia berkepala gajah untuk menunjukkan kesatuan makhluk yang kecil (mikrokosmos) yakni manusia dengan Yang Agung (makrokosmos) yang digambarkan sebagai gajah.
Swastika atau di Bali sebagai tapak dara adalah yantra atau simbol grafis dari Ganesha yang disebut Ganeshayantra. Belalai Ganesha yang kadang-kadang bengkok kekiri (itampiri) kadang-kadang kekanan (valampiri) dihubungkan dengan dua jalan / dualisme / rwa binedha, juga melambangkan tapak dara / swastika yang dapat diarahkan kesegala penjuru, bolak balik no problem. Putar Kanan disebut Pradaksinam atau Purwadaksina sementara Putar Kiri disebut Hitacaranam atau Prawesya. Tapak Dara adalah lambang keberuntungan atau keselamatan, juga lambang ilmu pengetahuan. Garis yang berpotongan secara sederhana menggambarkan alam semesta yang berasal dari titik pusat, bindu, symbol ether, yang mengembang ke empat penjuru dan menjadi empat unsur alam semesta untuk mencapai keseimbangan / stabilitas diri sendiri (makrokosmos) maupun alam sekitar (makrokosmos).
Taring Ganesha yang hanya satu (ekadanta) merupakan simbol pendukung kehidupan yang sejati, yang melenyapkan maya / ilusi, simbol kesatuan antara yang berwujud dengan yang tak berwujud.
Sebagai Penguasa Alam Semesta, Ganesha memiliki empat buah tangan, melindungi empat penjuru alam, penguasa 4 kitab suci weda, penguasa empat unsur alam. Ia membawa tali penjerat sebagai tanda penguasa alam semesta. Tangannya dalam sikap pemberi anugrah (varamudra) sebagai tanda Ia yang memenuhi segala keinginan dan kerinduan padaNya. Tangannya yang memegang kapak mengusir segala kecemasan, menolak segala halangan dan bahaya, mengatasi kematian, memusnahkan penderitaan. Tangannya yang memegang tempat perhiasan yang penuh dengan emas adalah perlambang sebagai Dewa Kemakmuran.
Wahana Dewa Ganapati adalah seekor tikus (musaka) sebagai simbolis yang menguasai bagian dalam dari segala sesuatu. Atman yang meresapi segala sesuatu adalah seekor tikus yang tinggal didalam lubang buddhi (intelek) yang merupakan hati nurani setiap makhluk. Ia yang bersembunyi dibalik bentuk ilusi yang tidak terduga dan tidak seorangpun mengetahui bahwa penguasa didalam diri (Sang Diri) adalah kebahagiaan yang sejati.
Ganesha berbadan gemuk dengan perutnya yang gendut, karena semua manifestasi dan alam semesta yang maha luas ada didalam perutnya, Ia sendiri tidak berada didalamnya. Daun telinganya yang lebar sebagai lambang kebijaksanaan yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam mencapai kesempurnaan Bhakti.


Omkara
AUM menjadi lambang Brahman sebagai dunia yang terwujud maupun yang tak terwujud / yang mutlak yang memiliki unsur ruang yang tak terbatas yaitu A (Akara), U (Ukara) dan M (Makara) tanpa permulaan, tanpa akhir, tanpa sebab-akibat, tak termusnahkan, ada dimana-mana, tujuan tertinggi, sebagai permulaan dan akhir segalanya.

Bhavisya Purana 4. 14-16 mewajibkan setiap pembacaan mantra mantra Veda untuk diawali dengan Omkara
akaaram caapyukaaram ca, makaaram ca prajaapatih, vedatrayaattu nirgrhya, bhur bhuvah svaritiiti ca
tribhya eva tu vedebhyah, paadam paadamad uuduhat, tad ityrco’syaah saavitryaah, paramesthii prajaapatih
etad aksaram etaam ca, japanvyaahrti puurvikaam, sandhyayor ubhayor vipro, veda punyeyena yujyate
tiga huruf A U M diambil dari ketiga Veda oleh Dewa Brahma, juga mengambil tiga suku kata Bhur Bhuvah Svah dan memadukannya, Brahma Gayatri Mantra diawali dengan ketiga suku kata suci ini, seorang Brahmana yang setiap siang hari dan juga malam melantunkan ketiga huruf dan suku kata suci ini sama artinya dengan melantunkan seluruh isi Veda.

Mantra suci AUM dalam wujud Sinar yang merupakan pusat kekuatan yang Maha Dahsyat (Hyang Rudram), bisa dianggap nampak dan tidak nampak, skala-niskala, rue-bhineda.
AUM merupakan Brahman yang sesungguhnya, yang transenden dan universal. Mereka yang bermeditasi melalui pengulangan Pranava AUM, akan mencapai segala kebahagiaan, pengampunan, kekekalan, keberadaan tertinggi yang meresapi segalanya, yang tak termusnahkan.

Dalam Katha Upaniṣad dikatakan bahwa tujuan suci yang diuraikan oleh semua Veda adalah AUM; yaitu Brahman yang tak terhancurkan; dan dengan mengetahuinya, maka apa yang diinginkan seseorang akan tercapai.

Chandogya Upaniṣad menyatakan bahwa, yang merupakan satu bagian dari Mahabrahman pada Atharwa Veda, juga menggambarkan meditasi melalui pengulangan dari kata-kata suci ini dan menyatakan bahwa para calon spiritual dapat mencapai kediaman awal dan tertinggi dengan perenungan yang tak putus-putusnya. Oleh karena itu, tumbuhkanlah niat untuk memuja Brahman melalui kata-kata suci AUM.

Dalam Bhagavad Gītā, VIII. 13 terdapat pernyataan berikut.
Aum ityekaksaram brahma vyaharam mam anusmaran
Yah prayati tyajan deham sa yati paramam gatim
Dia yang mengucapkan aksara tunggal AUM, yaitu
Brahman, dan mengenangkan AKU, sewaktu ajal telah
memanggil kembali, meninggalkan badan jasmani,
pergi ketujuan tertinggi.

Dalam Mandukya Upaniṣad, sloka 1, keagungan dari suku kata mistis ini diuraikan sebagai berikut.
aum ity etad aksaram idam sarvam,
tasyopavyakhyanam bhutam bhavad bhavisyad iti
sarvam aum kara eva, yac canyat trikalatitam tad api aumkaraeva
Om adalah suku kata yang menyatakan semuanya ini. Apa saja yang merupakan masa silam, sekarang dan masa yang akan datang, semuanya ini adalah Om saja. Dan apa pun yang berada di luar waktu, yang tiga itu hanyalah Om saja.

AUM menyatakan Brahma, sang pencipta, Viṣnu sang pemelihara, dan Śiva, sang pelebur.
AUM, merupakan Nada Brahma atau Suara Brahman, yang merupakan bija atau benih mantra dan biasanya dipakai sebagai awalan bagi seluruh mantra lainnya. Hati (jantung) merupakan tempat kedudukan Atma dan dari sana berkembang 108 buah nadi, sehingga jumlah dari mantra yang diucapkan adalah 108 kali dan jumlah manik-manik pada untaian mala adalah 108 butir.
AUM melampaui sifat-sifat sattvarajas dan tamas.
AUM menggerakan prana atau daya vital kosmis, dan dalam diri manusia dinyatakan dalam Pranawayu atau nafas vital. Oleh karena itu Ia dikenal sebagai pranava. Setiap getaran dalam badan dan di alam semesta bermula dari AUM, dihidupi oleh AUM, dan kembali terserap ke dalam AUM.

Bhagavan Manu menyatakan bahwa pengulangan dari Mantra Gayatri yang diawali dengan pranava AUM dan wahavyahrti Bhur, Bhuvah Svah, baik pada waktu pagi hari maupun senja hari, akan memberikan para pemujanya segala pahala dari mempelajari Veda. Seperti ular yang melepaskan kelongsongnya sendiri, sedemikian pulalah sang dvijati melepaskan segala dosa-dosanya dengan pengulangan secara teratur ketiga anggota Gayatri Mantra dengan AUM dan ketiga mahawyahrti.

Mantra Inti Pemujaan kepada Ganapati
OM NAMO BHAGABATAE GAJAANAAYA NAMAHA
OM GAM GANAPATI YA NAMAH
OM SRI MAHA GANAPATI YA ANAMAH
OM SRI SIDDHI VINAYAKA YA NAMAH

OM GANANAM TVA GANAPATIM HAVAMAHE
KAVIM KAVINAM UPAMASRAVASTAMAM
JYESTHARAJAM BRAHMANAM BRAHMANAS PATA
A NAH SRNVANN UTIBHIH SIDA SADANAM
PRANO DEVI SARASVATI
VAAJEBHIR VAJINIVATI
DHINAAMA VITRYAVATU
GANESHAAYA NAMAH
SARASVATYAI NAMAH
SHRI GURUBHYO NAMAH
HARI OM
Om Dewa Ganesha, Penguasa para Gana, mohon berkenan hadir, kami mengundangMu
Engkau Yang Sesungguhnya Adalah Brahma Wishnu Siwa
Pemimpin Semua Makhluk, Bidadari, Dewa, Planet, Alam Semesta
Semua Maha Guru Dan Bhakta Berbhakti Kepadamu
Engkaulah Yang Pertama Dipuja, Dijunjung Serta Dihormati
Yang Memberikan Anugrah Tanpa Batas Kepada Semua Bhakta
Om Dewa Ganesha, Jauhkanlah Dari Semua Halangan Dan Terimalah Puja Kami
Sembah Sujud Hamba Kepada Ganesha
Sembah Sujud Hamba Kepada Dewi Saraswati
Sembah Sujud Hamba Kepada Maha Guru

OM SHREEM HREEM KLEEM GANESHWARAYA
BRAHMARUPAAYA CHARAAVE
SARVA SIDDHI PRADESHAAYA
VIGHNESHAAYA NAMO NAMAH
Om Dewa Ganapati Penguasa Semua Ciptaan
Hamba Berbhakti Dan Berpasrah Diri
Engkaulah Brahma Wishnu Dan Siwa
Penganugrah Segala Keinginan
Pemberi Kekuatan Supranatural, Kekuatan Siddhi
Pemberi Kejayaan, Kekayaan Dan Keabadian
Engkau Adalah Guru Alam Semesta

OM SHREEM HREEM KLEEM
GLAUM GAM GANAPATAYAE
VARA VARADA SARVA  JANAMAI    
VASHAMANAAYA SVAAHA
Ada  banyak  biji (benih) didalam mantra ini
mantra ini memberikan anugrah
aku persembahkan rasa egoku sebagai persembahan

OM VAKRATUNDA MAHAKAYA
SURYAKOTI SAMAPRABHA
NIRVIGHNAM KURU ME DEVA
SARVA KARYESU SARVADA
Om Dewa Yang Bersinar Kemilau Berjuta Cahaya
Dengan Gading Yang Indah Dan Perkasa
Dengan Tubuh Yang Besar Tiada Banding
Buatlah Usahaku Dan Semua Kegiatanku
Bebas Dari Segala Rintangan

OM MAHA VIGHNAAN PRAMUCHYATAE
MAHAA  PAAPAAN  PRAMUCHYATAE
SARVA  DOSHAAN PRAMUCHYATAE
SA  SARVAVID  BHAVATI
Om dewa Ganesha, semoga segala halangan dilenyapkan
segala dosa-dosa dihancurkan
segala kesalahan diperbaiki  (dimaafkan)
semoga Deva Ganesha memberkati  baktanya dengan pengetahuan yang benar dan tepat

Pemujaan Ganapati lainya seperti Trimurty Ganapati, Ganapati Atharvasirsa, dll bisa didapatkan di buku pedoman Garis Perguruan Brahma Prajapati.


Gayatri Sirah
Gayatrisirah merupakan sirah / kepala / realitas tertinggi dari penyatuan dengan Sang Pencipta.
Mahamantra ini awalnya diuraikan didalam Rg Veda Mandala 3 Sukta 63 sloka 10 sebagai berikut:
          TAT SAWITUR WARENYAM
          BHARGO DEWASYA DHIIMAHI
          DHIYO YO NAH PRACODAYAAT
Selanjutnya mahamantra ini diulang atau dipakai dalam kitab-kitab lainya terutama dalam Mahanarayana Upanishad dan Surya Upanishad, mengingat kedua Upanishad utama ini merujuk kepada pemujaan Surya sebagai realitas tertinggi. Sawitur sendiri adalah merupakan nama ke-10 dari Surya, sehingga sangatlah jelas bahwa pemujaan dengan mantra Gayatri Sawitri ini adalah ditujukan kepada realitas tertinggi Brahma dalam wujud Surya/Sawitri.

Didalam Mahanarayana 35.1 terdapat sloka untuk memanggil  Dewi Gayatri sebagai berikut:
OM OJO ASI SAHO ASI BALAMASI BHRAAJO ASI DEWAANAAM DHAAMANAAMASI WISWAMASI WISWAAYUH SARWAMASI SARWAAYURABHIBHUUROM GAAYATRIM AAWAAHAYAAMI SAAWITRIIM AAWAAHAYAAMI SARASWATIIM AAWAAHAYAAMI CHANDARSII NAAWAAHAYAAMI SRIYAM AAWAAHAYAAMI GAAYATRIYAA GAAYATRII CHANDO WISWAAMITRA RSIH SAWITA DEWATAAGNIRMUKHAM BRAHMA SIRO WISNUHRDAYAM RUDRAH SIKHAA PRTHIWII YONIH PRAANAPAANAWYAANODAANASAMAANAA SAPRAANAA SWETAWARNAA SAAMKHYAAYANA SAGOTRAA GAAYATRII CATURWIMSATYAKSARAA TRIPADAA SAT KUKSIH PANCASIIRSOPANAYANE WINIYOGAH
Wahai Gayatri Engkau adalah inti kekuatan, Engkau adalah kesabaran, daya mengatasi, Engkau adalah kesempurnaan, Engkau adalah kesemarakan, Engkau adalah tempat kediaman para Dewa dan nama nama mereka, Engkau adalah alam semesta, Engkau adalah jangka waktu / peguasa kehidupan, Engkau adalah setiap hal yang hidup, Engkau adalah masa kehidupan semuanya, Engkau adalah pelenyap musuh kami, Engkau adalah kebenaran yang dinyatakan dalam Pranawa OM, aku memanggil Gayatri kedalam hatiku, aku memanggil Sawitri , aku memangil Saraswati, aku memanggil metrum dan para Rsi, aku memanggil cahaya dari para Dewa, dari Gayatri metrumnya adalah Gayatri, Rsinya adalah Wiswamitra, dan Dewatanya adalah Sawitri, Api adalah wajahnya, Brahma adalah kepalanya, Wishnu adalah hatinya, Siwa sebagai rambutnya, Pertiwi sebagai dasarnya/Yoni, semua jenis nafas (prana-apana-wyana-odana-samana) sebagai nafasnya, Gayatri yang cemerlang sebagai Paramaatman yang dicapai oleh para Saamkhya (para suci/tercerahi), Dewata Gayatri memiliki 24 suku kata, yang tersusun dalam 3 pada, 6 selubung dan 5 kepala, Engkau sebagai upanayana Weda (inisiasi Weda).

Didalam sloka ini gayatri seolah merupakan air yang hanya akan mengalir ketempat yang lebih rendah. Jadi kita diajarkan untuk rendah hati, berserah diri, menyesali dan mengakui dosa-dosa, merindukan kemurnian dan cahaya Brahman, sehingga cahaya Sawitur itu akan datang kepada kita. Didalam mantram ini dijelaskan bahwa sesungguhnya Gayatri adalah Brahman itu sendiri dalam wujud realitas kehidupan sebagai yang bersinar terang (matahari/bintang, pusat galaxy/jyotir lingam).
Gayatri juga dikenal sebagai Sawitri dan Saraswati, keberadaan tertinggi dan pendorong dari semua Ciptaan. Gayatri sebagai intisari Veda disebut sebagai Saraswati, dimana Veda dinyatakan sebagai kolam/saras ilmu pengetahuan yang maha luas.
Secara tradisional Gayatri (sebagai pelindung dan penghapus dosa) merupakan nama yang diberikan kepada Dewata di pagi hari, Sawitri (sebagai yang menyinari alam semesta) pada tengah hari dan Saraswati (sebagai aspek mewujudkan kata-kata) pada sore hari. Hal ini erat juga kaitannya dengan Brahma-Wishnu-Siwa sebagaimana halnya warna Merah-Hitam-Putih.
Sebagai intisari dari semua mantra, Gayatri dilantunkan dengan membayangkan Jyotir lingga atau sinar super terang terang trilyunan matahari didalam hati, yang lambat laun sinar ini akan menyatu dengan sang diri dalam kekosongan, keheningan sejati dalam suara kosmis AUM (ooooooongmmm) didalam Hrdaya.

Selanjutnya, Gayatrisirah sebagai mahamantra diuraikan dalam Mahanarayana 35.2 berikut ini:
OM BHUR BHUVAH SVAH
MAHAH JANAH TAPAH SATYAM
OM TAT SAVITUR VARENYAM
BHARGO DEVASYA DHIIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAAT
OM AAPO JYOTII RASO AMRITAM
BRAHMA BHUR BWAH SWAR OM
Om Brahman, budhi kami pusatkan kepada tujuh lapis alam
kami memusatkan pikiran kepada Brahman yang abadi, sang pencipta, yang layak dipuja, tanpa awal dan akhir, sinar kebijaksanaan, kebenaran yang abadi
bimbinglah kami menuju kesempurnaan/pencerahan
lindungilah kami dari rendaman karma
anugerahi kami segala kesempurnaan hidup
semoga Brahma memberkati pada ketiga dunia

Gayatri ini adalah mantra utama dalam pemujaan Surya Narayana, yang terdapat dalam bait/sloka ketiga Surya Upansihad, yang membuktikan betapa istimewanya Gayatri sebagai mantra utama pemujaan Surya.
Mantra tersebut terdiri dari empat unsur yakni; Pranawa, Wyahrti, Gayatri dan Gayatrisirah, membentuk keseluruhan unit mantra.
Menurut Manu, mantra ini harus diulang ulang secara mental (tanpa suara – didalam hati) dengan jelas dan penuh konsentrasi selama penahanan nafas didalam. Jadi, mantra ini digabung atau diucapkan secara mental pada saat pranayama, dimana pada sloka 35.1 sebelumnya dijelaskan bahwa nafas dari gayatri ini adalah Panca Prana, sehingga Gayatri dan nafas / panca prana adalah merupakan satu paket yang tak terpisahkan.

Bhavishya Purana Bab IV yang terdiri dari 222 Sloka khusus mengagungkan Omkara dan Gayatri Mantra sebagai dasar dari semua kegiatan spiritual, Agnihotra, Homa Yadnya, Surya Sewana, Yoga, Diksa Upanayana, Diksa Dwijati, dll.

Para penyembah bermeditasi pada Bharga-nya, yakni sinar suciNya yang berjumlah 4 (caturvida purusaartha) yang terpendam dikedalaman hati, sehingga para pemujaNya diberikan Dharma-Artha-Kama-Mokhsa secara sempurna. Sinar/Bharga/Bhargo Caturvida Purusaartha inilah yang diharap-harapkan oleh semua Bhakta yang mencari pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian, berharap kepada Brahman Yang Tertinggi untuk menuntun para Bhakta  menuju pencerahan tertinggi.


Lombok, 11 Oktober 2018
Dikumpulkan oleh,


SHRI ANANTADAMAR GANACHAKRA
Siswa Yogarsi-Brahmasanyas

Garis Perguruan Suryaagni PrajapatiGANAPATI – OMKARA – GAYATRI SIRAH

Sebagai Dasar Homa dan Surya Sewana

 Shri Anantadamar Ganachakra



Pentingnya Pemujaan Ganapati dan Surya

Surya Sadhana adalah praktek pemujaan tradisi Weda pada masa masa awal penciptaan alam semesta, yang juga menyimpan pengetahuan tak terbatas mengenai asal usul alam semesta.
Seiring dengan perkembangan dan semakin banyaknya ilmu pengetahuan Veda yang diturunkan kepada para Maharsi kita, maka ajaran inipun terbagi bagi dan masuk ke berbagai sekte, sehingga ajaran dan mantra-mantranya juga turut terbagi bagi.

Inilah tugas penulis saat ini sebagai siswa Yogarsi untuk mengumpulkan mutiara-mutiara terserak mengenai Ganesha dan Surya yang terangkum didalam Surya Mahajnana Sidhanta (Pedoman Dasar Brahma Prajapati didalam buku karya penulis). Tujuannya adalah untuk melengkapi pengetahuan maupun mantra para Bhakta secara universal. Sebagai contoh, tradisi Mantra dan Surya Sewana di Nusantara, baik Siva Sidantha, Budha maupun Waisnawa, dasar hukum dan mantranya yang memuja Surya dan Ganapati sangat terbatas dan banyak tidak terbaca secara lengkap.

Mengapa pemujaan Ganapati/Ganesha dan Surya (Surya Narayana atau Brahma Prajapati) adalah sangat penting dan utama ? Berikut adalah sedikit dari banyak sumber yang bisa penulis rangkum:
1.    Ganapati Upanishad Sloka 13
ETADATHARVASIRSA YO’DHITE,
SA BRAHMABHUYAYAM KALPATE,
SA SARVATAH SUKHAMEDHATE,
SA SARVAVIGHNAINA BADHYATE,
SA PANCAMAHAPAPAT PRAMUCYATE.
Siapapun yang bermeditasi pada Atharva-sirsa dapat menyatu dengan brahman. Ia akan mendapatkan kebahagiaan di mana-mana. Ia tidak akan mendapatkan berbagai macam rintangan. Ia terbebas dari lima dosa besar.

2.    Brahma Vaivartha Purana, Ganapati Khanda 6.100
GANESHA PUJANAE VIGHNAM
NIRMALAM JAGATAM BHAVET
NIRVYADHIHI SURYA PUJAYAM
SUCHIHI SRI WISHNUM PUJANAE
Dewa Ganesha melenyapkan segala halangan
Menjaga ketentraman alam semesta
Keberhasilan dan kesempurnaan didapatkan dengan memuja Surya
Kesucian didapatkan dengan memuja Wishnu

3.    Narada Upanishad 3.65
4 fungsi/rahmat Ganesha
MAHAVIGHNAAN PRAMUCYATE
Melenyapkan segala rintangan
MAHAPAPAAN PRAMUCYATE
Segala kesalahan dimaafkan/diperbaiki
SARVA DOSHAAN PRAMUCYATE
Menghapus segala dosa
SA SARVAVID BHAVATI
Menganugerahkan segala kebenaran

4.    Sabdakalpadruma Kosa
AADITYAM GANANAATHAMCA DEVIM RUDRAM CA KESAWAM
PANCA DAIVATAM ITYUKTA SARVA KARMASU PUJAYET
Surya, Ganesha, ShaktiSiva dan Vishnu adalah lima aspek kebenaran atau Brahman yang harus dipuja dalam setiap puja/upacara suci



5.    Sri Ganesa Puranam
Seluruh isi dari Kitab ini mengagungkan Ganesha, terutama Bab X dimana suatu ketika Rsi Vyaasa kehilangan kekuatan dan ingatan untuk menyusun kitab suci lalu menghadap kepada Dewa Brahma untuk bertanya, dan Dewa Brahma memberikan penjelasan bahwa semua masalah datang karena melupakan Ganesa
AARAMBHE SARVA KAARYANAAM
PRAVESE VAAPI NIRGAME
SRAUTE SMAARTHE LAUKOKE
YO ASMRTO VIGHNAM KAROTI CA
tentu akan ada penghalang atas setiap hal yang kita lakukan terkecuali kita mengingat dan berdoa kepada Ganesha, dalam semua usaha, perjalanan, membangun, mempelajari Veda semua akan lanca r dengan mengingat Ganesa.



6.    Bhavishya Purana 22.31
AADITYASYA SADAA PUUJAM
TILAKAM SVAAMINAS TATHAA
VINAAYAKA PATESCAIVA
SARVASIDDHIM AVAAPNUYAAT
Guna memenuhi segala keinginan bhakta, seseorang harus bersungguh sungguh memuja Vinayaka (Ganesha) dan Aditya (Surya) dengan teratur sesuai petunjuk kitab suci

7.    Bhavishya Purana 159.4
SARVA YAJNA TAPODAANA
TIIRTHA DEVESU YATPHALAM
TATPHALAM KOTIGUNITAM
STHAAPYA BHAANUM LABHENNARAH
Semua manfaat dari upacara, tapa, berdana / bersedekah, tirthayatra (mengunjungi tempat suci), memuja Dewa Dewi jutaan kali, semuanya terlampaui dengan memuja Surya (Bhanu adalah salah satu wujud/nama dari Dewa Surya).

8.    Atharva Veda Mandala 2  
Adhyatma Sukta 1.58
YO ADYA DEVA SUURYA TVAAM CA MAAM CAANTARAAYATI,
DUSVAPNYAM TASMICHAMALAM DURITAANI CA MRJMAHE
Siapapun juga yang hari ini, wahai Surya, berada diantara engkau dan aku (berbhakti mengingatMu), semua mimpi buruk, pencemaran/dosa, dan kesulitan dalam dirinya terhapuskan

9.    Rg Veda I.115.14
SURYA ATMA JAGATAS TASTHUSAS CA
Surya adalah roh alam semesta baik yang bergerak maupun tak bergerak

10. Agni Purana, Mudgala Purana, Weda Parikrama, Padma Purana, Siwa Purana, Surya Upanishad, dan masih banyak sumber lainya yang menjelaskan tentang pentingnya pemujaan kepada Ganapati dan Surya Narayana.

Pemujaan kepada Ganesha/Ganapati adalah mewujudkan beliau sebagai Mahaguru semua umat manusia, karena beliau adalah pemegang terakhir dari kitab ilmu pengetahuan alam semesta serta catatan semua kejadian / peristiwa dalam alam semesta yang disebut LINGGAPRANALA. Kitab Linggapranala ini diturunkan oleh Sanghyang Anantawisesa / Mahawishnu yang berbaring di badan naga Anantasesha. Sanghyang Anantawisesha menurunkan kitab ini kepada Sanghyang Taya / Bhatara Guru yang kemudian menurunkanya kepada Dewi Saraswati.  Dalam proses pembelajaran Dewa Ganesha di puncak Kailash, Dewi Saraswati menurunkan kitab ini kepada Dewa Ganesha. Saat itu Dewa Ganesha diabhiseka dengan nama Shri Vinayaka, yang berarti maha mengetahui segalanya.
Sebagai Mahaguru, beliau patut dipuja terlebih dahulu dalam memulai segala kegiatan, terlebih lebih dalam hal mempelajari Veda atau mantra-mantra.

Pemujaan kepada Surya adalah sebagai manifestasi Sang Pencipta yang terlihat secara nyata. Segala isi alam semesta bermula dari Surya Mahanarayana yakni Jyotir lingam, matahari raksasa yang sangat terang berwujud lingga. Dari sinilah semuanya berawal, leluhur alam semesta termasuk kita umat manusia, yang kita sebut sebagai Kawitan Tunggal atau Surya Mahanarayana.
Atharva Veda Samhita Mandala II Adhyatma Sukta 4-5-6 semuanya menjelaskan tentang ke-esaan atau tunggalnya Hyang Widhi.
Dibagian awal Rg Veda, Brahman disebut sebagai Agni, berturut-turut kemudian dalam Yajur Veda, Sama Veda dan Atharwa Veda, beliau disebut sebagai indra, soma, vayu, yama, varuna, saraswati, Vishnu, brahma, rudra/siwa, marut, marici, matarisvan, dan sebagainya. Disebutkan dalam Atharva Brahmacari Sukta sloka-2, bahwa 6.333 dewa hadir dalam upacara Diksa Brahmacari. Semua kemuliaan dan pemujaan dewa-dewa disebutkan satu persatu dalam catur veda, namun pada akhirnya didalam Atharva Veda Adhyatma Sukta 4-5-6, semua dewa menunggal dengan Surya sang kawitan alam semesta sebagai Hyang Maha Tunggal.

Aum Sri Ganesha, putra Dewa Siwa dan Parwati atau Bapa Akasa dan Ibu Pertiwi atau Lingga dan Yoni, yang digambarkan sebagai Pemimpin Utama (Vinayaka) atau sebagai Dewa Penghalau segala rintangan / Pengelukat (Vighnesvara). Karena Beliau sebagai penguasa segala rintangan, maka segala upacara atau pemujaan termasuk juga pemujaan Surya / Surya Sewana / Surya Upasana harus didahului dengan memuja / memanggilNya terlebih dahulu.
Vinayaka adalah Realitas Utama yang maha pemurah, abadi dan penganugrah kegembiraan serta kemuliaan kepada mereka yang memuja-Nya. Beliau dimuliakan sebagai “Samasta Loka Samkara” yang memberi kesejahteraan bagi segenap alam semesta, yang senantiasa cemerlang. Ganesha lahir sebagai replika dari penguasa hati Ibu dan Bapak alam semesta. Ia sesungguhnya melambangkan Tuhan yang paling menguntungkan, sekaligus merupakan simbol dari puncak pengalaman spiritual dan sebuah altar kesempurnaan, sebagai penjaga dan pembuka serta penutup pintu kesadaran spiritual.
Menurut Kundalini yoga, Ganesha menempati cakra adhara berarti “dasar, pondasi”. Cakra muladara adalah hal yang penting yang merupakan dasar/sumber kekuatan ilahi yang terpendam.
Sri Ganesha adalah “Aum Antaryamin” Tuhan Penguasa Batin yang menuntun kehidupan Sang Diri dalam sebuah perjalanan suci dari kelahiran menuju kematian untuk mencapai tempat terakhir “Moksa” penyatuan sang “AKU”. Ganesha disimbulkan sebagai Omkara atau pranawa adalah simbol universal Tuhan / Brahman.
Ganapati digambarkan sebagai manusia berkepala gajah untuk menunjukkan kesatuan makhluk yang kecil (mikrokosmos) yakni manusia dengan Yang Agung (makrokosmos) yang digambarkan sebagai gajah.
Swastika atau di Bali sebagai tapak dara adalah yantra atau simbol grafis dari Ganesha yang disebut Ganeshayantra. Belalai Ganesha yang kadang-kadang bengkok kekiri (itampiri) kadang-kadang kekanan (valampiri) dihubungkan dengan dua jalan / dualisme / rwa binedha, juga melambangkan tapak dara / swastika yang dapat diarahkan kesegala penjuru, bolak balik no problem. Putar Kanan disebut Pradaksinam atau Purwadaksina sementara Putar Kiri disebut Hitacaranam atau Prawesya. Tapak Dara adalah lambang keberuntungan atau keselamatan, juga lambang ilmu pengetahuan. Garis yang berpotongan secara sederhana menggambarkan alam semesta yang berasal dari titik pusat, bindu, symbol ether, yang mengembang ke empat penjuru dan menjadi empat unsur alam semesta untuk mencapai keseimbangan / stabilitas diri sendiri (makrokosmos) maupun alam sekitar (makrokosmos).
Taring Ganesha yang hanya satu (ekadanta) merupakan simbol pendukung kehidupan yang sejati, yang melenyapkan maya / ilusi, simbol kesatuan antara yang berwujud dengan yang tak berwujud.
Sebagai Penguasa Alam Semesta, Ganesha memiliki empat buah tangan, melindungi empat penjuru alam, penguasa 4 kitab suci weda, penguasa empat unsur alam. Ia membawa tali penjerat sebagai tanda penguasa alam semesta. Tangannya dalam sikap pemberi anugrah (varamudra) sebagai tanda Ia yang memenuhi segala keinginan dan kerinduan padaNya. Tangannya yang memegang kapak mengusir segala kecemasan, menolak segala halangan dan bahaya, mengatasi kematian, memusnahkan penderitaan. Tangannya yang memegang tempat perhiasan yang penuh dengan emas adalah perlambang sebagai Dewa Kemakmuran.
Wahana Dewa Ganapati adalah seekor tikus (musaka) sebagai simbolis yang menguasai bagian dalam dari segala sesuatu. Atman yang meresapi segala sesuatu adalah seekor tikus yang tinggal didalam lubang buddhi (intelek) yang merupakan hati nurani setiap makhluk. Ia yang bersembunyi dibalik bentuk ilusi yang tidak terduga dan tidak seorangpun mengetahui bahwa penguasa didalam diri (Sang Diri) adalah kebahagiaan yang sejati.
Ganesha berbadan gemuk dengan perutnya yang gendut, karena semua manifestasi dan alam semesta yang maha luas ada didalam perutnya, Ia sendiri tidak berada didalamnya. Daun telinganya yang lebar sebagai lambang kebijaksanaan yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam mencapai kesempurnaan Bhakti.


Omkara

AUM menjadi lambang Brahman sebagai dunia yang terwujud maupun yang tak terwujud / yang mutlak yang memiliki unsur ruang yang tak terbatas yaitu A (Akara), U (Ukara) dan M (Makara) tanpa permulaan, tanpa akhir, tanpa sebab-akibat, tak termusnahkan, ada dimana-mana, tujuan tertinggi, sebagai permulaan dan akhir segalanya.

Bhavisya Purana 4. 14-16 mewajibkan setiap pembacaan mantra mantra Veda untuk diawali dengan Omkara
akaaram caapyukaaram ca, makaaram ca prajaapatih, vedatrayaattu nirgrhya, bhur bhuvah svaritiiti ca
tribhya eva tu vedebhyah, paadam paadamad uuduhat, tad ityrco’syaah saavitryaah, paramesthii prajaapatih
etad aksaram etaam ca, japanvyaahrti puurvikaam, sandhyayor ubhayor vipro, veda punyeyena yujyate
tiga huruf A U M diambil dari ketiga Veda oleh Dewa Brahma, juga mengambil tiga suku kata Bhur Bhuvah Svah dan memadukannya, Brahma Gayatri Mantra diawali dengan ketiga suku kata suci ini, seorang Brahmana yang setiap siang hari dan juga malam melantunkan ketiga huruf dan suku kata suci ini sama artinya dengan melantunkan seluruh isi Veda.



Mantra suci AUM dalam wujud Sinar yang merupakan pusat kekuatan yang Maha Dahsyat (Hyang Rudram), bisa dianggap nampak dan tidak nampak, skala-niskala, rue-bhineda.
AUM merupakan Brahman yang sesungguhnya, yang transenden dan universal. Mereka yang bermeditasi melalui pengulangan Pranava AUM, akan mencapai segala kebahagiaan, pengampunan, kekekalan, keberadaan tertinggi yang meresapi segalanya, yang tak termusnahkan.


Dalam Katha Upaniṣad dikatakan bahwa tujuan suci yang diuraikan oleh semua Veda adalah AUM; yaitu Brahman yang tak terhancurkan; dan dengan mengetahuinya, maka apa yang diinginkan seseorang akan tercapai.


Chandogya Upaniṣad menyatakan bahwa, yang merupakan satu bagian dari Mahabrahman pada Atharwa Veda, juga menggambarkan meditasi melalui pengulangan dari kata-kata suci ini dan menyatakan bahwa para calon spiritual dapat mencapai kediaman awal dan tertinggi dengan perenungan yang tak putus-putusnya. Oleh karena itu, tumbuhkanlah niat untuk memuja Brahman melalui kata-kata suci AUM.

Dalam Bhagavad Gītā, VIII. 13 terdapat pernyataan berikut.
Aum ityekaksaram brahma vyaharam mam anusmaran

Yah prayati tyajan deham sa yati paramam gatim

Dia yang mengucapkan aksara tunggal AUM, yaitu
Brahman, dan mengenangkan AKU, sewaktu ajal telah
memanggil kembali, meninggalkan badan jasmani,
pergi ketujuan tertinggi.

Dalam Mandukya Upaniṣad, sloka 1, keagungan dari suku kata mistis ini diuraikan sebagai berikut.
aum ity etad aksaram idam sarvam,

tasyopavyakhyanam bhutam bhavad bhavisyad iti

sarvam aum kara eva, yac canyat trikalatitam tad api aumkaraeva

Om adalah suku kata yang menyatakan semuanya ini. Apa saja yang merupakan masa silam, sekarang dan masa yang akan datang, semuanya ini adalah Om saja. Dan apa pun yang berada di luar waktu, yang tiga itu hanyalah Om saja.


AUM menyatakan Brahma, sang pencipta, Viṣnu sang pemelihara, dan Śiva, sang pelebur.
AUM, merupakan Nada Brahma atau Suara Brahman, yang merupakan bija atau benih mantra dan biasanya dipakai sebagai awalan bagi seluruh mantra lainnya. Hati (jantung) merupakan tempat kedudukan Atma dan dari sana berkembang 108 buah nadi, sehingga jumlah dari mantra yang diucapkan adalah 108 kali dan jumlah manik-manik pada untaian mala adalah 108 butir.
AUM melampaui sifat-sifat sattvarajas dan tamas.
AUM menggerakan prana atau daya vital kosmis, dan dalam diri manusia dinyatakan dalam Pranawayu atau nafas vital. Oleh karena itu Ia dikenal sebagai pranava. Setiap getaran dalam badan dan di alam semesta bermula dari AUM, dihidupi oleh AUM, dan kembali terserap ke dalam AUM.


Bhagavan Manu menyatakan bahwa pengulangan dari Mantra Gayatri yang diawali dengan pranava AUM dan wahavyahrti Bhur, Bhuvah Svah, baik pada waktu pagi hari maupun senja hari, akan memberikan para pemujanya segala pahala dari mempelajari Veda. Seperti ular yang melepaskan kelongsongnya sendiri, sedemikian pulalah sang dvijati melepaskan segala dosa-dosanya dengan pengulangan secara teratur ketiga anggota Gayatri Mantra dengan AUM dan ketiga mahawyahrti.


Mantra Inti Pemujaan kepada Ganapati
OM NAMO BHAGABATAE GAJAANAAYA NAMAHA
OM GAM GANAPATI YA NAMAH
OM SRI MAHA GANAPATI YA ANAMAH
OM SRI SIDDHI VINAYAKA YA NAMAH

OM GANANAM TVA GANAPATIM HAVAMAHE
KAVIM KAVINAM UPAMASRAVASTAMAM
JYESTHARAJAM BRAHMANAM BRAHMANAS PATA
A NAH SRNVANN UTIBHIH SIDA SADANAM
PRANO DEVI SARASVATI
VAAJEBHIR VAJINIVATI
DHINAAMA VITRYAVATU
GANESHAAYA NAMAH
SARASVATYAI NAMAH
SHRI GURUBHYO NAMAH
HARI OM
Om Dewa Ganesha, Penguasa para Gana, mohon berkenan hadir, kami mengundangMu

Engkau Yang Sesungguhnya Adalah Brahma Wishnu Siwa

Pemimpin Semua Makhluk, Bidadari, Dewa, Planet, Alam Semesta

Semua Maha Guru Dan Bhakta Berbhakti Kepadamu

Engkaulah Yang Pertama Dipuja, Dijunjung Serta Dihormati

Yang Memberikan Anugrah Tanpa Batas Kepada Semua Bhakta

Om Dewa Ganesha, Jauhkanlah Dari Semua Halangan Dan Terimalah Puja Kami

Sembah Sujud Hamba Kepada Ganesha

Sembah Sujud Hamba Kepada Dewi Saraswati

Sembah Sujud Hamba Kepada Maha Guru


OM SHREEM HREEM KLEEM GANESHWARAYA
BRAHMARUPAAYA CHARAAVE
SARVA SIDDHI PRADESHAAYA
VIGHNESHAAYA NAMO NAMAH
Om Dewa Ganapati Penguasa Semua Ciptaan

Hamba Berbhakti Dan Berpasrah Diri

Engkaulah Brahma Wishnu Dan Siwa

Penganugrah Segala Keinginan

Pemberi Kekuatan Supranatural, Kekuatan Siddhi

Pemberi Kejayaan, Kekayaan Dan Keabadian

Engkau Adalah Guru Alam Semesta


OM SHREEM HREEM KLEEM
GLAUM GAM GANAPATAYAE
VARA VARADA SARVA  JANAMAI    
VASHAMANAAYA SVAAHA
Ada  banyak  biji (benih) didalam mantra ini

mantra ini memberikan anugrah

aku persembahkan rasa egoku sebagai persembahan


OM VAKRATUNDA MAHAKAYA
SURYAKOTI SAMAPRABHA
NIRVIGHNAM KURU ME DEVA
SARVA KARYESU SARVADA
Om Dewa Yang Bersinar Kemilau Berjuta Cahaya

Dengan Gading Yang Indah Dan Perkasa

Dengan Tubuh Yang Besar Tiada Banding

Buatlah Usahaku Dan Semua Kegiatanku

Bebas Dari Segala Rintangan


OM MAHA VIGHNAAN PRAMUCHYATAE
MAHAA  PAAPAAN  PRAMUCHYATAE
SARVA  DOSHAAN PRAMUCHYATAE
SA  SARVAVID  BHAVATI
Om dewa Ganesha, semoga segala halangan dilenyapkan

segala dosa-dosa dihancurkan

segala kesalahan diperbaiki  (dimaafkan)

semoga Deva Ganesha memberkati  baktanya dengan pengetahuan yang benar dan tepat


Pemujaan Ganapati lainya seperti Trimurty Ganapati, Ganapati Atharvasirsa, dll bisa didapatkan di buku pedoman Garis Perguruan Brahma Prajapati.




Gayatri Sirah

Gayatrisirah merupakan sirah / kepala / realitas tertinggi dari penyatuan dengan Sang Pencipta.
Mahamantra ini awalnya diuraikan didalam Rg Veda Mandala 3 Sukta 63 sloka 10 sebagai berikut:
          TAT SAWITUR WARENYAM
          BHARGO DEWASYA DHIIMAHI
          DHIYO YO NAH PRACODAYAAT
Selanjutnya mahamantra ini diulang atau dipakai dalam kitab-kitab lainya terutama dalam Mahanarayana Upanishad dan Surya Upanishad, mengingat kedua Upanishad utama ini merujuk kepada pemujaan Surya sebagai realitas tertinggi. Sawitur sendiri adalah merupakan nama ke-10 dari Surya, sehingga sangatlah jelas bahwa pemujaan dengan mantra Gayatri Sawitri ini adalah ditujukan kepada realitas tertinggi Brahma dalam wujud Surya/Sawitri.

Didalam Mahanarayana 35.1 terdapat sloka untuk memanggil  Dewi Gayatri sebagai berikut:
OM OJO ASI SAHO ASI BALAMASI BHRAAJO ASI DEWAANAAM DHAAMANAAMASI WISWAMASI WISWAAYUH SARWAMASI SARWAAYURABHIBHUUROM GAAYATRIM AAWAAHAYAAMI SAAWITRIIM AAWAAHAYAAMI SARASWATIIM AAWAAHAYAAMI CHANDARSII NAAWAAHAYAAMI SRIYAM AAWAAHAYAAMI GAAYATRIYAA GAAYATRII CHANDO WISWAAMITRA RSIH SAWITA DEWATAAGNIRMUKHAM BRAHMA SIRO WISNUHRDAYAM RUDRAH SIKHAA PRTHIWII YONIH PRAANAPAANAWYAANODAANASAMAANAA SAPRAANAA SWETAWARNAA SAAMKHYAAYANA SAGOTRAA GAAYATRII CATURWIMSATYAKSARAA TRIPADAA SAT KUKSIH PANCASIIRSOPANAYANE WINIYOGAH
Wahai Gayatri Engkau adalah inti kekuatan, Engkau adalah kesabaran, daya mengatasi, Engkau adalah kesempurnaan, Engkau adalah kesemarakan, Engkau adalah tempat kediaman para Dewa dan nama nama mereka, Engkau adalah alam semesta, Engkau adalah jangka waktu / peguasa kehidupan, Engkau adalah setiap hal yang hidup, Engkau adalah masa kehidupan semuanya, Engkau adalah pelenyap musuh kami, Engkau adalah kebenaran yang dinyatakan dalam Pranawa OM, aku memanggil Gayatri kedalam hatiku, aku memanggil Sawitri , aku memangil Saraswati, aku memanggil metrum dan para Rsi, aku memanggil cahaya dari para Dewa, dari Gayatri metrumnya adalah Gayatri, Rsinya adalah Wiswamitra, dan Dewatanya adalah Sawitri, Api adalah wajahnya, Brahma adalah kepalanya, Wishnu adalah hatinya, Siwa sebagai rambutnya, Pertiwi sebagai dasarnya/Yoni, semua jenis nafas (prana-apana-wyana-odana-samana) sebagai nafasnya, Gayatri yang cemerlang sebagai Paramaatman yang dicapai oleh para Saamkhya (para suci/tercerahi), Dewata Gayatri memiliki 24 suku kata, yang tersusun dalam 3 pada, 6 selubung dan 5 kepala, Engkau sebagai upanayana Weda (inisiasi Weda).

Didalam sloka ini gayatri seolah merupakan air yang hanya akan mengalir ketempat yang lebih rendah. Jadi kita diajarkan untuk rendah hati, berserah diri, menyesali dan mengakui dosa-dosa, merindukan kemurnian dan cahaya Brahman, sehingga cahaya Sawitur itu akan datang kepada kita. Didalam mantram ini dijelaskan bahwa sesungguhnya Gayatri adalah Brahman itu sendiri dalam wujud realitas kehidupan sebagai yang bersinar terang (matahari/bintang, pusat galaxy/jyotir lingam).
Gayatri juga dikenal sebagai Sawitri dan Saraswati, keberadaan tertinggi dan pendorong dari semua Ciptaan. Gayatri sebagai intisari Veda disebut sebagai Saraswati, dimana Veda dinyatakan sebagai kolam/saras ilmu pengetahuan yang maha luas.
Secara tradisional Gayatri (sebagai pelindung dan penghapus dosa) merupakan nama yang diberikan kepada Dewata di pagi hari, Sawitri (sebagai yang menyinari alam semesta) pada tengah hari dan Saraswati (sebagai aspek mewujudkan kata-kata) pada sore hari. Hal ini erat juga kaitannya dengan Brahma-Wishnu-Siwa sebagaimana halnya warna Merah-Hitam-Putih.
Sebagai intisari dari semua mantra, Gayatri dilantunkan dengan membayangkan Jyotir lingga atau sinar super terang terang trilyunan matahari didalam hati, yang lambat laun sinar ini akan menyatu dengan sang diri dalam kekosongan, keheningan sejati dalam suara kosmis AUM (ooooooongmmm) didalam Hrdaya.

Selanjutnya, Gayatrisirah sebagai mahamantra diuraikan dalam Mahanarayana 35.2 berikut ini:
OM BHUR BHUVAH SVAH
MAHAH JANAH TAPAH SATYAM
OM TAT SAVITUR VARENYAM
BHARGO DEVASYA DHIIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAAT
OM AAPO JYOTII RASO AMRITAM
BRAHMA BHUR BWAH SWAR OM
Om Brahman, budhi kami pusatkan kepada tujuh lapis alam
kami memusatkan pikiran kepada Brahman yang abadi, sang pencipta, yang layak dipuja, tanpa awal dan akhir, sinar kebijaksanaan, kebenaran yang abadi
bimbinglah kami menuju kesempurnaan/pencerahan
lindungilah kami dari rendaman karma
anugerahi kami segala kesempurnaan hidup
semoga Brahma memberkati pada ketiga dunia

Gayatri ini adalah mantra utama dalam pemujaan Surya Narayana, yang terdapat dalam bait/sloka ketiga Surya Upansihad, yang membuktikan betapa istimewanya Gayatri sebagai mantra utama pemujaan Surya.
Mantra tersebut terdiri dari empat unsur yakni; Pranawa, Wyahrti, Gayatri dan Gayatrisirah, membentuk keseluruhan unit mantra.
Menurut Manu, mantra ini harus diulang ulang secara mental (tanpa suara – didalam hati) dengan jelas dan penuh konsentrasi selama penahanan nafas didalam. Jadi, mantra ini digabung atau diucapkan secara mental pada saat pranayama, dimana pada sloka 35.1 sebelumnya dijelaskan bahwa nafas dari gayatri ini adalah Panca Prana, sehingga Gayatri dan nafas / panca prana adalah merupakan satu paket yang tak terpisahkan.

Bhavishya Purana Bab IV yang terdiri dari 222 Sloka khusus mengagungkan Omkara dan Gayatri Mantra sebagai dasar dari semua kegiatan spiritual, Agnihotra, Homa Yadnya, Surya Sewana, Yoga, Diksa Upanayana, Diksa Dwijati, dll.

Para penyembah bermeditasi pada Bharga-nya, yakni sinar suciNya yang berjumlah 4 (caturvida purusaartha) yang terpendam dikedalaman hati, sehingga para pemujaNya diberikan Dharma-Artha-Kama-Mokhsa secara sempurna. Sinar/Bharga/Bhargo Caturvida Purusaartha inilah yang diharap-harapkan oleh semua Bhakta yang mencari pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian, berharap kepada Brahman Yang Tertinggi untuk menuntun para Bhakta  menuju pencerahan tertinggi.


Lombok, 11 Oktober 2018
Dikumpulkan oleh,


SHRI ANANTADAMAR GANACHAKRA
Siswa Yogarsi-Brahmasanyas

Garis Perguruan Suryaagni Prajapati


Blog, Updated at: November 20, 2018

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta