Bhatara Druwaresi dan Sang Hyang Anantasana Pencipta “Mara Bahaya” di Bumi Ini

Posted by


Sujud Bhakti , Berdoa Mohon Anugraha Nya
Dirgayur Asthu Nyepi Saka 1942 Sareng Sami



Dihimpun oleh:
Acharya Rishi Sadhu Giriramananda

SIAPAKAH sejatinya yang menciptakan hal hal tidak baik di zaman Kaliyuga ini dalam perspektif “Lontar Roga Sanghara Bhumi”. Dalam lontar itu disebut kan penciptanya adalah Bhatara Druwaresi. Bethara Druwaresi ini besthana di langit. Sedangkan Sanghyang Anantasana, besthana di Sapta Petala. Kekacauan dan bencana yang muncul di jagat ini, lantaran Bethara berdua itu sangat marah kepada orang orang jahat, munafik, suka mencari keuntungan dengan “pengetahuan” yang dimiliki di bumi. Juga kepada Mereka yang senantiasa berpikiran terlalu keras ke hal meterial/ duniawi dan tidak suka sembahyang. Bumi ini akhirnya mengalami masa kekacauan, api membesar, gempa, tsunami terjadi dan memicu ketidakstabilan tatanan rta dunia. Hal itu, disebabkan segala golongan “Bhuta Pisaca” menjelma sebagai manusia. Maka akibatnya, dunia menjadi Senghara, Kacau balau. Manusia terkena imbas, banyak yang tidak berkesadaran suci. Manusia bertengkar dengan saudaranya. Pencuri bertindak sadis. Pikiran orang jumawa merasa sebagai Hyang Widhi. Mencela orang orang yang menjalankan Dharma, Pandita, Sulinggih, Acharya. Pendeta mangkat tiada sebab musababnya. Sering terjadi gempa. Doa doa tidak manjur. Racun dan penyakit merajalela. Bumi dipenuhi kekotoran ternoda hingga dunia bawah alias petala loka. Karena itu, Sang Hyang Anantahoga pun marah, sebab punggungnya merasa diinjak oleh orang orang kotor, akibatnya punggung beliau Panas. Naga Anantabhoga pun bereaksi dengan cara menggerakkan ekornya, sehingga Bumi menjadi bergetar, memberi isyarat baik dan buruk di dunia ini. Keberadaan Bhatara Druwaresi, yang besthana di atas langit itu, disebut “mustika” nya para Dewa. Beliau bukan saja bersthana di Sorga juga Surya loka, Candra loka. Beliau merupakan jiwanya semua dewata. Bhatara Druwaresi, juga mengikuti peredaran matahari dan bulan bergerak Ke Timur dan ke Barat. Beliau tidak saja perwujudan Bumi yang membuat kondisi baik atau buruk. Juga perwujudan berbagai wujud, segala cahaya, segala air, segala wujud api, Beliau memerintah dewa dewa yang ada di Bumi. Beliau tidak ingin melihat dunia lagi, ingginnya menghancurkan manusia di muka bumi ini, dan menghentikan pergantian dewata yang berkuasa di Bumi, hingga pimpinan dunia manusia, karena sudah terlalu banyak manusia yang perangainya jahat. Mereka yang jahat itu disebut sebagai penjelmaan Kala Katung. Sebab sudah tidak ada keharuman manusia sejati sampai ke Suryoka dan juga ke Saptapetala tempatnya Dewa Baruna. Kebanyakan dipenuhi orang orang najis, orang orang berdosa, tidak ada yang dapat menyucikan tempatnya Dewa Baruna. Karena itu marahlah Bethara Druwaresi itu. Busurnya lalu dibentangkan. Anak panah nya tiada lain adalah Racun Kalakuta. Panah sakti itu diarahkan kepada manusia di Bumi ini. Anak Panah itu kemudian menjadi Raksasa dan juga Bhuta Bhregala namanya. Mereka tidak berbadan seperti manusia. Namun rupanya seperti Windu/ Bindu . Badanya adalah angin, air dan api. Dia lah yang menyebarkan penyakit, sehingga orang bisa mati mendadak/ terkena Kala Mretyu, itulah namanya penyakit “Antu Prana” penyakit yang cepat mengantarkan kematian karena , jiwa manusia segera saja diambil, jeroannya dimakan Bhuta Bregala. Bhuta Bregala, itu bisa menjadi besar, bisa menjadi kecil, bisa berbadan halus, bisa berbadan kasar, mengambil jeroan yang sakit untuk diberikan kepada Sang Kala Mayapati. Efeknya manusia bisa muntah, berak, sakit perut meilit lilit tanpa bisa diobati. Agar tidak diserang wabah penyakit maka sujud bhakti memohon kepada Hyang Mulia Bhatara Druwaresi. Bhantennya dihaturkan di Angkasa, Dua perangkat suci laksana, disertai saji, dengan itik putih jambul diguling, Rayunan putih kuning berdampingan dengan ikan segala yang suci. Kelengkapannya antara lain, kendi, tuak, kain lima warna dan pesucian. Banten itu agar dibuatkan “Panggungan” sebagai sarana menghunungkan diri dengan Bethara Druwaresi, dengan tinggi 6 depa. Ketupat kelanan dipersembahkan ke laut

Kita harus berdoa, memohon secara khusus kepada Bethata Druwaresi , sebab Hyang Brahma, Wisnu, dan Shiva, disebutkan sangat menghormati Bethara Druwaresi itu. Beliau disebut perwujudan dari “Titah” itu. Karena itu dikatakan ada “ Widhi Sastra” yang diterima Sangyang Yogiswara, yang merupakan manusia utama, menjadi pemimpin di seluruh Bharatawarsa. Maka segala keburukan , hal hal tidak baik di jagat ini beliaulah Hyang Mulia Bethara Druwaresi sebagai kreatornya. Semua itu disebutkan karena stana Dewa Baruna sudah sangat dicemari , terkontaminasi ketidak sucian manusia setiap hari. Akhirnya banyaj juga bergelimpangan mayat orang orang berdosa . Demikian juga khahyangan beliu di Bumi ini juga tidak henti hentinya dialiri kekotoran , cemer, karena itu diamanatkan untuk upacara Labuh Gentuh, semua Arca, Murthi di seluruh wilayah masing masing dibawa ke laut untuk disucikan dan sembahyang mohon doa kerahayuan kepada Bathara Druwaresi. Mantra - mantranya :

Om Suryacanam ruwam dewam
Suurya sakalam sariram
Brahma pawwatho bhaswaram
Locanam jagat indranam

Dewa dewa guru dewa
Druwa suuryo Maha Rudram
Mretanam sudha bhuhlokam
Om Siddhi Swasti ya namah

Pakulun Sanghyang Surya Candra Lintang Trenggana 
makadi Sira Bhatara Bhagawan Druwasakti hulun angaturaken saji
Huripen manusan inghulun
Siddhaning karyaninghulun
Tan amanggih upadrawa De Bethara

Om surya jagatpati dewam
Surya netram tri bhuh lokam
Druwa dewam maha saksyam
Brahma surya jagat patyam

Bhagawan druwastu nityam
Wahanam surya awanam
Rupa krura naga rupam
Wisnu wesnawa sariram

Cakra desyana wahanam
Wisnu dewa masariram
Moga ya moga kresnatwan
Warsa sarira arnawam

Agni jwala Rudram murtyam
Surya tejo maha tiksnam
Bhagawanta Druwatmakam
Wahanam surya antaram

(Pakulun Bethara Siwaditya
Manusanira anedaanugraha
Kadirgayusan tan kagelehan dening
Sarwa dewa sarwa bhuta
Sarwa Durga waluya hening jati tan patalutuh
Muah yan hana durmita
durmanggalaning jagat
Nugrahen hulun tan kataman wiroga
Upadrawa , de Bethara sowang sowang
Muah watek Kingkara Bhuta
Tan Hana Miroga Hulun
Om Sidhiasthu ya namah svaha

Ong indah te kita kamung raja bhuta
Sang kala Singaang bhuana
Sang kala sapu jagat
Sang kala mangsa Bhuana
Iti tadah sajinira

Asing kirang asing luput sampun tan geng rene sinampura
Mangkin sira pada wehen sang amanggih lara
Manawi kacandet atmanira sang agering
Kakungkung antuk sang Bhuta Tiga Sakti
Mangke antukaken ring raga walunan ipun
Mangke sang bhuta tiga Wisesa Mantuk Ring
Kahyangnira sowang sowang

Ong Sang Kala Sungsang Bhuana
Mulih ring Bethara Wisnu maring Uttara
Iniring dening Bhuta Ireng
Petang atus pedangdasa pat kwehnye

Ong Sang Kala Sapuh Jagat
Mantung ring Bhatara Ishwara Maring Purwa
Kahiring antuk I Bhuta Putih
Limang atus limadasa lima kwehing sarwabhuta Sangkala Mangsa Bhuana
Mantuk ring Bhatara Brahma maring Daksina
Iniring dening Bhuta Abang
Sangyang atus sangang puluh sanga sakweking bhuta kabeh poma mundur

Om Durgampati masariram
Karakingkara moksatam
Kalamretyu punah sitam
Sarwawighna winasanam

Ong Yang Om Lang Om Mang
Namah swaha hosat
Ong Ang Ong Mang Ong Ing Ong Wang
Ong Sidhirasthu ya namah
Ang Ung Mang Ong Sa Ba Ta A I
Na Ma Si Wa Ya Ong

Ong indah ta kita kamung raja Bhuta
Sang Kala Sungsang Bhuana
Sang Kala Sapujagat
Sang Kala Mangsa Bhuana
Iti tadah Sajinira

Asing Kira Luput Ipun
Geng Rene Sinampura
Sang Adruwe caru
Wahen ye amanggih dirgayusa
Manawi kacande ke kungkung Atma
Jiwitane syanu

Mangke antukakene
Ong shidirastu ya namah svaha
Ong Sang Bang Tang Ang Ing
Nang Mang Sing Wang Yang
Ang Uang Mang

Pakulun Bethara Ganapathi ,
Manusan Ida Bhatara minta urip. 
Kataman gering kamaranan. 
Prangen tedahaken Sarwa Bhuta, 
Sasab kabeh, Yan Siddha waras anak sanak putu rabining hulun. 
Hulung ngayuraken saji tiningkah Wedya Gana 
Mungwing Sanggar Akasa, Ong Namostute Ganapathi
Sarwa wigna winasanem
Sarwa marana wicitram
Sarwa roga winasanam

Pakulun Hyang Ratnangkara
Hyang Sagara Geni
Manusa Nira Nunas Urip
Bhumtinin saji nira dena becik
Ong Siddhiarstu ya namah svaha




Acharya Rishi Sadhu Giriramananda


Blog, Updated at: April 07, 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Buku VPA

Harga Rp 100.000 Harga Rp 50.000

Pemesanan silahkan KLIK DISINI
Bank BNI No 0864571776 an VPA Cabang Lombok

vedaposhana.ashram@gmail.com


  


TRI SANDHYA




https://www.ichintb.or.id/p/blog-page_56.html

Pusat Belajar Sansekerta

Bahasa Sansekerta adalah Bahasa Weda sebagai sumber dari segala sumber ilmu. Sebagai Umat Hindu sudah saatnya mengetahui dan memahami isi Kitab Suci Weda dengan belajar Bahasa Sansekerta
Ayo Belajar Bahasa Sansekerta